Pages

Search Upil on This Blog

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Monday, March 31, 2014

Sang Gadis dan Lelaki Itu: "Memulai itu lebih mudah daripada mengakhiri."

"Memulai itu lebih mudah daripada mengakhiri."

Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga sang gadis. Ia memikirkan betapa sulitnya untuk mengambil keputusan. Hubungan yang tidak sehat itu, apakah masih bisa diobati atau harus dilepaskan begitu saja. Setiap langkah memang memiliki konsekuensi, dan tidak setiap orang siap menanggung konsekuensi itu. Obat pahit bernama kenyataan itu memang susah bila harus ditelan tanpa air, tapi akan lebih susah apabila harus dikunyah lebih dulu, lebih pahit.

Apa yang harus dipertahankan? Apa yang harus dipertimbangkan? Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai?
Begitu banyak hal yang sang gadis pikirkan, memang tipe orang yang takut sebelum terjadi.

* * *

Dunia teknologi sangat sedih apabila kecanggihannya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh manusia. Dewasa ini telah muncul banyak sosial media, aplikasi-aplikasi canggih di dalam smartphone dan tentu saja ditujukan untuk pengguna yang 'smart'. Tujuannya adalah untuk komunikasi. Iya, manusia telah dimanjakan dengan kemudahan berkomunikasi. Lantas, bagaimana bisa menjadi alasan renggangnya hubungan dua orang yang hanya berpisah secara raga? Masuk akal? Logis? Sepertinya tidak.

Sang gadis memikirkan itu, memikirkan bahwa alasan kerenggangan hubungannya dengan lelaki itu karena satu hal, komunikasi. Jarak memang memisahkan raga, tapi komunikasi adalah satu-satunya cara untuk menyatukan hati. Konsekuensi dari sebuah jarak adalah kangen, tentu saja. Tapi, bukankah kecanggihan teknologi sudah mengatasinya? Kangen ya tinggal sms, DM, message, chatting. Kangen suara, ya tinggal telpon. Kangen melihat satu sama lain tapi gak bisa ketemu, ya tinggal skype. Tidak bisa semua? Tidak mungkin. Bisa, tapi usaha yang tidak ada.

Entah apa yang menjadi alasan sebenarnya, sang gadis tak pernah mengetahuinya. Sampai ketika ia kembali bertemu lelaki itu, satu bulan kemudian. Mungkin inilah pola pikir yang berbeda antara sang gadis dan lelaki itu. Sang gadis, bisa saja menghindari lelaki itu, bersikap cuek atau dingin. Tapi itu akan berlangsung selama beberapa jam atau mungkin tiga hari, paling lama. Namun, ketika lelaki itu menghindari sang gadis, bersikap cuek atau dingin, itu akan memakan waktu yang lebih lama. Sepuluh hari, bukanlah waktu yang sebentar bagi sang gadis. Lantas apa yang dilakukan lelaki itu? Tentu saja berkumpul bersama teman-temannya. Mungkin memang benar, perempuan itu memiliki perasaan yang jauh lebih sensitif. Sang gadis merasa tidak dipedulikan, disamarkan, dan dianggap tidak ada.

Sang gadis dan lelaki itu memperdebatkan persoalan yang sepele. "Aku kan hubungi kamu duluan pas hari anu." atau  "Aku telponin kamu berulang kali, tapi kamu sama sekali gak mencoba telpon aku.". Lucu memang. Segala sesuatu yang sepele bisa menjadi besar, bisa menjadi runyam, dan lebih membuat emosional bila berbentur ego. Sang gadis tidak mau kalah, lelaki itu jauh tidak ingin mengalah (lagi).

* * *

"Aku capek untuk menghadapi sikap kamu yang seperti ini. Tega banget sih jadi cowok."
"Kamu itu, kalau tidak tahan dengan aku, yaudah bilang. Nggak usah nunggu aku yang bilang duluan, kenapa sih?"
"Yaudah, kalau gitu. Kita putus."
"Oke. Semoga kamu dapet cowok yang lebih perhatian, lebih sayang dan lebih peduli."
"Amin. Semoga aku cewek terakhir yang kamu gantungin."
"Amin."

PUTUS.
Semudah itukah? Semudah membalikkan telapak tangan? Begitulah apabila emosi sudah menguasai otak. Namun, apakah kejadian yang dulu akan terulang? Rasa sesal itu akan menghampiri sang gadis lagi? Tentu saja tidak. Bagi sang gadis, berpisah karena disakiti jauh lebih cepat sembuh dari luka daripada berpisah secara baik-baik. 

Ah, ternyata mengakhiri memang tidak semudah memulai. Tapi, bagi sang gadis, ini justru awal untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Ini hanya soal pola pikir.


Friday, February 21, 2014

Gadis Itu dan Sang Lelaki: sebuah perpisahan(?)

“Kamu tahu gak kalau orang kecelakaan itu sakitnya bukan beberapa saat atau beberapa jam setelah kecelakaan, tetapi keesokan harinya?”

Gadis itu menyentuh tombol back, sms tersimpan sebagai draft. Kini ia dalam keadaan sadar, fisiknya. Tetapi, pikirannya? Masih belum sadar sepenuhnya. 

*  *  *

Beberapa jam yang lalu, gadis itu baru saja menemui kekasihnya. Mereka berpacaran baru seumur jagung, baru 6 bulan, ia baru move on dari mantannya semenjak dengan pacarnya itu, dan pacarnya baru sadar bahwa ia tidak terlalu mengenal apa-apa tntang gadis itu bahkan setelah 6 bulan itu, semuanya berbau ‘baru’. Baru dan baru.

Mengapa mereka bertemu? Tentu saja karena ada sesuatu hal yang perlu diluruskan, diselesaikan, dan dibicarakan, bukan sekedar ditulis di chat whatsapp atau bbm atau DM. Sudah 6 hari sang lelaki tidak memberikan kabar sepatah kata pun kepada gadis itu. Ia gusar, apapun yang dilakukan, percuma. Konsentrasi selalu buyar, tak ada lagi suasana fokus ketika membaca buku atau menulis bahan untuk blog. Ia ingin sekali menemui lelaki itu, secepatnya. Ia bukan tipe orang yang ingin menunda masalah, tetapi apa daya sang lelaki tipe orang yang senang menunda masalah. Entah karena tidak ingin menyelesaikan hari itu karena takut terbawa emosi atau karena memang menenangkan pikirannya dulu atau sengaja menghindar.

Sore itu, di sebuah taman. Gadis itu ingat betul, sang lelaki datang dalam keadaan yang 'enggak banget'. Rambut gondrong tak rapi, muka lecek bukan lagi seperti baju belum disetrika, tetapi lebih tepat seperti baju kotor yang ditumpuk di cucian kotor, dan tentu saja bau rokok yang melekat erat di jaket jeans yang dulu dibeli sebelum pergi ke pantai bersamanya. Tampaknya selama masa 'hilang komunikasi', sang lelaki tak pernah mandi, hanya mencuci muka ala kadarnya. Lengkap sudah kekesalan dalam hati gadis itu. Benar-benar tak seperti yang ia harapkan. Sudah berulang kali ia mengatakan kepada sang lelaki untuk mencukur rambutnya, karena memang kenyataannya sang lelaki terlihat lebih tampan dengan rambut rapi, tak seperti saat itu. Rambut rapi yang membuatnya seperti merasakan jatuh cinta lagi.

Andai sang lelaki memahami itu lebih cepat, andai sang lelaki tidak lamban dalam menangkap kode itu, dan andai lelaki itu bisa memegang serta mempertanggungjawabkan setiap penggalan kata-kata yang diucapkannya. Dan ternyata gadis itu hanya bisa berandai-andai, bahkan ketika sebuah penyesalan yang menjadi penyelesaian masalah sepele itu. PUTUS. Kemudian percakapan ‘seolah baik-baik saja’ itu pun terjadi.

“Bolehkah aku tetap memanggilmu dengan sebuatan sayangku seperti biasanya?”
“Tentu saja, itu terserah kamu. Tapi, aku tidak akan melakukannya lagi.” 
“Bolehkan aku main ke rumahmu?”
“Tentu saja, selama aku ada di rumah dan belum pindah rumah.”
“Bolehkah jika suatu saat nanti aku mengajakmu makan bersama?”
“Tentu saja, selama aku ada waktu.”
“Pasti kamu tidak akan menyempatkannya.”
Gadis itu hanya tersenyum datar seolah berucap “who know?”.
"Dan bisakah kau menungguku selama 10 tahun? Aku akan datang untuk melamarmu. Tentu saja ketika aku sudah menjadi ‘orang’?"
“Jika kau datang 10 tahun lagi, mungkin aku sudah memiliki anak.”
“Baiklah, bagaimana dengan 5 tahun?”
“Mungkin aku sudah dilamar orang lain.”
Sang lelaki hanya terdiam, sedang gadis itu mulai beranjak meninggalkan sang lelaki yang mematung di bawah pohon di taman itu. Seperti awan yang terdiam menyaksikan matahari kembali ke peraduannya. Gadis itu memang tak pernah ingin lagi mendengarkan janji manis sang lelaki, cukup sudah hatinya hampir menderita diabetes (jika memang hati bisa mengidap diabetes). Bukan karena tidak pernah mempercayainya, tetapi percaya barang sekali atau dua kali sudah cukup bukan? Sudah cukup ketika dipatahkan kepercayaannya itu. Wanita mana yang ingin lelakinya terus mengulang kesalahan yang sama? Sepertinya hampir semua wanita akan berkata 'tidak ada'.

*  *  *

Hari pertama pasca berpisah. Semuanya terlihat baik-baik saja, gadis itu tetap bercanda tawa bersama teman-temannya. Hidupnya berjalan normal seperti sebelum sang lelaki itu hadir. Bahkan ia masih menikmati film-film yang berbau cinta tanpa merasakan sakitnya kenangan.

Hari kedua pasca berpisah. Gadis itu terus saja melirik chat whatsapp, apakah ada pesan dari sang lelaki, apakah sang lelaki itu online, atau apakah sang lelaki itu baik-baik saja? Hidupnya mulai sedikit gusar meski ia masih saja tetap bercanda tawa bersama teman-temannya. Canda tawa yang menyamarkan kesedihan. Kesedihan yang tak tertangkap oleh teman-temannya melalui mata sang gadis.

Hari ketiga pasca berpisah. Gadis itu makin sering melirik chat whatsapp, semakin sering mempertanyakan apakah ada pesan dari sang lelaki, apakah sang lelaki itu online, atau apakah sang lelaki itu baik-baik saja? Hidupnya benar-benar gusar, kesedihan yang ia samarkan sedikit terlihat oleh teman-temannya. Tetapi, ia masih menghindar dan tidak mengakui kesedihan itu. Ia memilih untuk memendam semuanya dalam peti bernama “rahasia hati perempuan”. Memutar lagu Big Big World milik Emilia, berulang-ulang, mencoba menegarkan hati. Ia juga ingin sekali ia mengirimkan lagu When You’re Gone milik Avril kepada sang lelaki. Tapi apa daya, gengsi gadis itu terlalu tinggi. Sampai akhirnya, bunyi notifikasi chat whatsapp terdengar dari handphone gadis itu, sang lelaki itu muncul. Tuhan Maha Mendengar, Tuhan Maha Baik, Tuhan memang tidak tidur, segala macam doa syukur dipanjatkan gadis itu.
“Belum tidur?”
“Belum bisa tidur.”
“Lagi ngapain?”
“Baca buku. Kamu?”
“Main gitar. Mau aku nyanyiin nggak supaya kamu bisa tidur?”
Ah tidak, itu kebiasaan lama mereka. “Boleh, tapi aku boleh request lagunya?”
“Boleh. Apa?”
“When You’re Gone dari Avril Lavigne.”
“Aku gak tahu lagunya. Hehe…”
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengirimkan lagunya.
 
Beberapa saat kemudian, sang lelaki itu mengetik“aku kangen kamu.”
Lama sekali gadis itu tidak membalas chat sang lelaki, ia berada diantara rasa senang dan rasa tidak percaya. "Apa yang harus aku lakukan?" Bagaimana mungkin rasa aneh ketika orang sedang pendekatan itu muncul kembali. "Aku harus membalas apa?" Gusar betul. Berkali-kali meremas boneka di tangannya lalu menatap cermin, memantapkan hati. Akhirnya,“Me too” adalah jawaban dari gadis itu. Ia mengalahkan rasa gengsinya. Sang lelaki telah meluluhlantahkan hati gadis itu. Hati yang kemarin penuh amarah, hati yang digantung selama 6 hari itu, buyar hanya sebuah kalimat ‘aku kangen kamu’. Ah sesederhana itukah? Atau memang selama ini gadis itu saja yang menyulitkan semuanya?

Hari keempat pasca berpisah. Gadis itu melirik chat whatsapp, lagi dan lagi. Tidak ada chat dari sang lelaki sejak pagi sampai jam makan malam. Ia mulai mengutuki dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu termakan harapan yang ia buat sendiri? Entah bisikan dari mana, malam itu juga, pukul 23.00, tanpa memikirkan rasa takut atau rasa cemas sebagai seorang gadis, gadis itu memutuskan untuk menemui sang lelaki.

“Aku di depan rumah kamu, aku mau ambil kacamataku dan uang nonton yang kamu pinjam. Tolong keluar ya.” Begitu bunyi pesan yang gadis itu kirim kepada sang lelaki. Ah, alibi.

Beberpaa saat kemudian, lelaki itu muncul. Sama seperti ketika ia melihat sang lelaki itu terakhir kali, tidak ada semangat hidup, rambutnya masih berantakan, tak terurus, seperti belum mandi beberapa hari, dan tentu saja masih menggunakan kaos oblong serta celana kolor bola Totenham Hotspur, klub bola favoritnya.

“Maaf, aku belum sempat ke tempatmu. Aku sakit selama beberapa hari.” Kalimat itu membuka percakapan malam itu. Sang lelaki memberikan kacamata dan uang kepada gadis itu.

“Yaudah, aku pulang ya.” Sang gadis tak kuasa menatap mata sang lelaki, ia masih mengenakan helm dan hampir menyalakan motornya.

“Eh tunggu dulu. Kamu enggak apa-apa kan?” Pertanyaan menohok. Lengan kanan gadis itu ditarik oleh sang lelaki. Sang lelaki ingin sekali menatap mata gadis itu.

Suara “sroot” dari hidung gadis itulah penyebab utama pertanyaan menohok itu muncul. “Enggak apa-apa, aku hanya sedang pilek.” Tangan kiri gadis itu mencoba melepaskan tangan sang lelaki dari lengan kanannya. 

“Tunggu dulu. Kamu beneran baik-baik saja? Baik-baik saja bagi perempuan, biasanya bermakna sebaliknya.”

Detik itu juga, hujan yang tak terbendung lagi keluar dari mata gadis itu. Bukan lagi menetes, tapi mengalir lancar tak tertahankan. Dan tebak apa yang sang lelaki itu lakukan? Tentu saja sang lelaki itu memeluk erat gadis itu. Sang lelaki tidak pernah tahan dengan tangisan gadis itu, ia berusaha menenangkan tangisan gadis itu.

Setelah tenang, akhirnya mereka berbicara dari hati ke hati. Membahas masalah yang sebenarnya sepele itu dan saling ingtrospeksi diri. Malam itu, ke-childish-an mereka terbayar sudah. BALIKAN.
sumber gambar

Apakah cerita ini selesai sampai di situ? Tentu saja tidak. Siapa yang memulai cerita, ia harus siap untuk mengakhiri cerita. Cerita ini masih pending, belum berakhir. Tidak ada cerita yang tidak memiliki akhir. Itu sudah menjadi takdir dan memang seharusnya seperti itu. Entah akhir yang bahagia atau sedih. Semua masih tanda tanya. 

Monday, November 11, 2013

Sebuah Awal Cerita

 

Dear Mr. Rasional…

Apa kabarmu hari ini?
Tak apa kan bila kupanggil kau dengan Mr. Rasional? Atau harus kuganti dengan Lelaki Penyabar Ciangsana?

Lelaki chubby itu kutemui kali pertama di sebuah acara kopdar. Ya, kopi darat, pertemuan antar manusia maya di dunia nyata. Kopdar salah satu komunitas blog, tentu saja hanya regional Jogja. Bila kau bertanya padaku bagaimana perasaanku padanya pada saat itu? Biasa saja. Tak ada yang menarik. Lelaki yang bawel, garing, ceria, dan hitam manis. Hari itu kau cenderung cuek seolah kutak ada, kecuali pada saat makan. Itupun karena kita sama-sama tidak mengetahui topik yang seringkali dilempar teman-teman. Satu hal baru yang kutau setelah makan tentang kamu, gombal.
“Neng, helm kita samaan nih mereknya. Jodoh kali ya.”
Aku hanya diam. Menyunggingkan senyum setengah kepaksa. Pada dasarnya, aku memang tak suka cowok gombal. Terlalu banyak tipu muslihatnya. “Modus banget”, kalau kata anak gaul zaman sekarang.

Entah malam keberapa setelah kopdar, akhirnya aku mendengarkan kamu on air. Padahal aku jarang sekali mendengarkan radio streaming, internet gak bersahabat. Oya, ngomong-ngomong soal on-air. Seenarnya, kau telah mencuri perhatianku sejak “makanan zaman kecil” menjadi topikmu di acara SIDOEL. Tapi aku tak pernah mengetahui kalau itu kamu. Sampai akhirnya aku kepo, tentu tidak kepo yang mendalam, kamu jangan ge-er.

Beberapa minggu kemudian, entah kerasukan roh apa, kamu mulai mention-mention, tag nama aku di komentar grup di pembicaraan random. Sebagai cewek, aku tentu saja dapat membaca gerak-gerik itu. Aku hafal apa yang sedang kamu lakukan. Mencuri perhatianku.

Tak cukup di sosial media. Pada suatu malam minggu, kamu mengajakku keluar. Aku pikir itu hanya main-main. Lalu kamu memintaku untuk sms kamu. Aku mengikuti saja alur berpikirmu, sampai akhirnya kamu meminta maaf karena motormu sedang dipakai oleh teman. Sedikit kecewa. Yah, aku terkena php. Siapa yang mengajak, siapa yang membatalkan. Kamu.

Kali kedua bertemu secara langsung, aku tak merasakan apapun. Masih biasa saja meski aku tau kamu masih saja mencoba mencuri perhatianku. Lalu, kamu meminta maaf atas kejadian php yang hampir kulupakan itu. Pertemuan yang tak begitu bermakna dalam.

Selanjutnya, kita lebih sering mention. beberapa kali kamu mengajakku keluar, tapi beberapa kali pula aku menolaknya. Bukan karena aku tak mau, tapi terkadang waktu memang tak bersahabat. Sampai akhirnya, suatu malam aku sangat kelaparan. Kamu yang masih dalam rangka mencuri perhatian, secara sedikit memaksa untuk mengantar makanan ke kos, tengah malam, pukul setengah satu. Wajahmu yang ceria malam itu, masih kurekam. Terima kasih untuk kepedulianmu, Mr. Rasional.


Bersambung...

Friday, March 15, 2013

Cinta (monyet) abadi

“Heh kamu yang kuncir kuda, sini maju!” Bentak seorang cewek kaca mata dengan juteknya. 

“Saya Kak? Kenapa?” Risty tampak ragu-ragu maju ke depan kelas. 

“Saya tau dari istirahat tadi, kamu ada di dalam kelas. Kamu tidak meminta tanda tangan seperti teman-temanmu yang lain. Jadi, gak usah ngelak lagi deh. Pasti kamu yang mencuri jam tangan saya. Ngaku!” Bentak cewek itu sambil menggebrak papan tulis. 

“Enggak kak. Saya tadi emang di dalam kelas, tapi sa... saya...” 

“Halah, diem kamu! Jangan banyak alasan! Kamu juga, cowok yang di pojokan kanan sana. Maju sini?” 

Seorang cowok, tingginya sekitar 160cm, berkulit coklat, bermata agak sipit maju tanpa banyak cincong seperti yang dilakukan Risty tadi. Mukanya terlihat sangat ramah. Tidak heran, bila beberapa teman barunya memberi julukan si Senyum. Meski sedang dalam posisi mingkem, entah kenapa bibirnya memperlihatkannya wajah tersenyum. 

“Gak suah mesem-mesem begitu! Kamu tau kenapa kamu saya panggil?” 
Rio menggeleng. “Apa salah saya kak?” 

Kamu saya panggil karena kamu bersekongkol dengan dia. Cewek kaca mata menunjuk hidung Risty yang pesek. Rio langsung mengelak. Mereka memang berada di dalam kelas saat istirahat, tapi mereka hanya membaca buku. Itu saja. Bedanya, Risty membaca teenlit sedangkan Rio membaca komik. Dan ternyata mereka berada dalam sebuah skenario MOPD. 

* * * 

Risty hanya senyum-senyum sendiri dalam pelukan lelakinya. Seorang komikus handal yang selalu ada untuk menggambar kisah kehidupan mereka. 

“Ris, kamu kenapa sih senyum-senyum gitu?” Rio membelai lembut wajah Risty. 

“Nggak apa-apa. Suka lucu aja kalau inget zaman MOPD SMP. Inget pas pertama kali kita ketemu. Inget pas kita dihukum karena sebuah skenario basi dari kakak tingkat kita.” Risty masih tersenyum lebar sambil membayangkannya. 

Sebuah kisah cinta memang selalu menghadapi lika-liku. Begitu pun dengan kisah cinta novelis dan komikus itu. Setelah kejadian MOPD, mereka bahkan masih saja tidak saling menyapa. Sampai pada suatu hari, Risty dan teman-temannya melakukan truth or dare. Sebuah kenyataan itulah yang mengundang gosip beberapa minggu kemudian. Risty menyukai Rio. Padahal, saat itu Risty hanya menjawab pertanyaan teman-temannya tentang orang yang ia suka di kelas. Itu saja. 

Namun, beda halnya dengan perasaan Rio yang dengan gampangnya menanggapi gosip itu. Sejak saat itu, Rio mulai memperhatikan Risty. Meski secara sembunyi-sembunyi. Cinta dalam hati itu tumbuh selama lima tahun. Sampai saat menginjak bangku SMA, Rio lagi-lagi satu sekolah dengan Risty. Rio memiliki banyak fans karena ia menjabat sebagai ketua OSIS. Sedangkan Risty, baru saja putus dengan pacar keduanya. 

Dengan penuh keberanian, Rio mencoba mendekati Risty. Ternyata perasaan cinta dalam hatinya sudah tidak dapat terbendung lagi. Ia tak ingin kalah dengan egonya lagi. 

Sebuah eskalator dan es krim menjadi sebuah saksi kisah cinta mereka. Ah, apalah pentingnya tempat bila dua cinta telah menyatu? Cinta tentu saja butuh pengorbanan, Risty harus memberi pengertian lebih karena harus diduakan dengan OSIS. Sedangkan Rio harus mempertebal dinding cinta mereka supaya tidak mudah dihadang oleh banyak lelaki yang sering menggoda Risty. Tapi, sungguh kekuatan cinta mereka begitu besar. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Cinta mereka abadi dalam sebuah ikatan pernikahan. Selamanya.

I'm all yours :)

Tuesday, November 13, 2012

Senja dibatas Rindumu



Sayang, apa kabarmu hari ini? Sore ini adalah kedua kalinya aku mencoba menghirup segarnya keceriaan taman dekat audit. Bukan karena aku sering berkunjung bersama mantan, tapi aku suka suasananya, jauh sebelum aku punya mantan disini. 

Sayang, aku begitu merindukanmu, sangat. Rasa rindu yang jauh lebih hebat dari sang mentari menunggu fajarnya di kala petang. Apakah rindu itu terbayar bila hanya kuingat dirimu? Sepertinya tidak. Ah, berbicara tentang ingatan aku jadi teringat sebuah album dalam ideasi pikiranku, tentu saja tentang kamu. Bila aku pulang nanti, kaset itu seolah terputarkan kembali. Ya, hanya sebuah kaset memori bajakan. Bukan asli. Aslinya sangat mahal, aku tak sanggup membelinya. Bukan karena aku tak punya uang, tapi aku tak sanggup membeli hatimu lagi untuk kembali melihatku. Itu harga yang sangat mahal bagiku. 

Sayang, tak apakan bila kupanggil demikian? Aku hanya mengenang. Ah, bahkan dulu kita jarang menggunakan kata itu. Kita lebih sering memanggil nama. Pernah suatu hari aku memintla satu nama favorit untuk kita, belo dan loved. Tapi penyebutan membuat kita kesulitan. Kamu tak mau aku panggil belo, padahal aku bacanya ‘bilo’ bukan ‘belo’. Konyol bukan? 

Hanya karena mengingatmu, hati ini terasa berbeda. Ada yang sesak. Tak terungkap dan rasanya begitu cettar membahana. #LHO? 

Kenapa kenangan harus ada? Kenangan itu sebenarnya aku yang menciptakan. Ia takkan ada bila tidak dipanggil atau terpanggil. Jadi, ketika aku tersakiti karena sebuah kenangan. Aku sama saja sedang menyakiti diri sendiri. Ah tidak, terkadang aku hanya menguji diri sendiri, sekuat apakah aku menerima kenyataan. Namun, berkali-kali aku mengujinya, berkali-kali pula aku terjerumus kesakitan yang sama. Bahkan bila sakit itu terjahit, jahitannya bukan sembuh malah semakin menganga, dan mungkin saja lebih dalam. 

Bila kau jatuh dan terluka lalu kau jatuh lagi di tempat luka yang sama. Bagaimana rasanya? Sakit bukan? Begitulah aku. Ketika aku sedang terpuruk karena berpisah denganmu lalu ternyata kamu telah bersamanya, rasa sakitnya di tempat yang sama, hatiku. 

Cinta selalu membuat wanita untuk mendramatisir. Benarkah itu? Seterluka itukah aku? Entahlah sayang, aku hanya ingin kau disini. Sekarang. 

Maaf, karena aku tak bisa membungkus senja kali ini seperti yang dilakukan seorang tokoh cerpen Seno Gumira. Lain kali, akan kutunjukkan langsung bagaimana potret senja bila bersamaku. Potret senja di sebuah pedesaan yang menghijau. Rumah sederhana dengan bukit yang berumput manila. Beberapa puluh meter dari rumah itu terdapat sebuah sekolah, disanalah tempatku mengajar. Sedangkan kamu? Kamu sibuk dengan usaha peternakan kita. Ah, sungguh mengharu biru bila mengingat sebuah cita-cita itu. Akankah kita menemukan gambar yang sama dengan cover facebookmu dalam hidup kita kelak? Hanya Tuhan yang tahu. 

Maka, izinkan aku disini untuk terus menunggu. Menunggu tanpa lelah. Menunggu datangnya kamu. Menunggu tanpa tangis. Dan menungguku kali ini seperti sebuah ketidakpastian. Tapi, aku harap ada keajaiban dari menungguku. 

Saturday, November 10, 2012

Doa Kala Senja Mencumbu Langit

sumber
Senja mengerti apa yang terjadi. Senja yang sama dengan perasaan yang berbeda. Aku melepasmu bukan berarti merelakanmu. Aku meninggalkanmu bukan berarti melupakanmu. Tidak sama sekali. Aku bahkan masih mematung, cengo. Apa yang sebenarnya kupikirkan dulu? Mengapa aku harus sok munafik? Aku bahkan masih memiliki rasa yang sama. 

Tapi, apa yang sebenarnya aku inginkan? Benarkah aku menginginkan hal yang dulu kita jalani bersama? Atau aku hanya merindukan sosok kita di masa itu? Sebuah lagu seolah menyadarkanku, lagu berlirik ‘bukannya aku takut kehilangan dirimu, tapi aku takut kehilangan cintamu’. Apakah aku hanya merasakah hal demikian? Aku takut kehilangan cinta dalam sosokmu. Ah persetan. Aku hanya tau bahwa aku pincang tanpa penopang. Disini, sekarang ini, aku hanya merasakan bahwa aku merindukanmu. Sangat. Itu saja! 

Hati selalu bergejolak. Menciptakan banyak tanya, aku bertanya tentang keadaanmu, bertanya tentang sejauh mana kau sangat mencintai kekasihmu, dan bertanya apakah ada namaku dalam hatimu? Aku harap, masih ada. Biar saja walau itu hanya secuil, aku hanya ingin eksistensiku diakui olehmu. 

Percayalah, rasa galau seperti ini selalu muncul layaknya api yang meletup-letup yang bahkan bisa membakar diriku sendiri ketika disembur oleh pikiran-pikiran melankolis sebagai bahan bakar minyaknya. Tidak hanya pikiran melankolis yang muncul, bahkan tak pelak rasa lebay muncul disana. 

Dulu, aku selalu berpikir. Jika aku mati, apakah kamu akan tau semua rahasia dalam sekotak hati yang hancur? Akankah kamu membaca blogku? Atau haruskah aku menitipkan sebuah amanat kepada sahabat-sahabatku? Apakah kamu akan menyesal? Aku harap ya. 

Tak jarang pikiran jahatku muncul. Kamu akan menyesal setelah tau bahwa orang yang sangat mencintaimu mati dalam keadaan membawa hati yang sangat hancur. Kamu akan menyesali semuanya, selamanya. Tapi pikiranku yang lain, selalu berjiwa sok bijaksana. Bijaksana dalam memahami kenyataan. Bijaksana dengan melapangkan hati. Ah, persetan dengan kemunafikan. Aku sudah bosan hidup dalam kemunafikan. Berjalan di atas aspal yang tidak sesuai dengan hatiku. Bosan aku tersenyum dalam hati yang patah. Jenuh aku berjingkrak riang di atas bara api kecemburuan. 

Tuhan, bila memang aku diciptakan untuk mencintainya. Apakah ia juga diciptakan untuk mencintaiku? Meski sekarang ia bersama kekasihnya, apakah mereka akan berjodoh? Tolong berikan aku kisi-kisinya, Tuhan. Aku sangat penasaran. Bertahun-tahun aku mengikatkan tali pada sebuah kesia-siaan. Berkali-kali hati yang hancur itu terobati, namun tidak pernah benar-benar utuh sempurna seperti lima tahun silam. 

Dan pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa pada Tuhan. Aku memasrahkan semuanya pada Tuhan. Bila memang ia jodohku, tolong dekatkan. Tapi, jika memang ia bukan jodohku, tolong jauhkan bahkan cabut saja sampai akarnya pohon kenangan aku bersamanya bersama rasa cintaku padanya. Aku lelah, capek, enggan bila harus terus menghirup napas untuk menghidupi hati yang nyaris tak dapat utuh lagi.

Sunday, August 26, 2012

Akhir yang Berakhir


Izinkan aku tetap ada
Izinkan aku tetap ada di sampingmu
Izinkan aku tetap ada di sampingmu hari ini
Izinkan aku tetap ada di sampingmu hari ini dan seterusnya

Kata Albert Einstein, satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian, dan ketidakpastian terbesar adalah waktu. Tapi, kini sesuatu yang penuh ketidakpastian adalah KITA.

Entah. Kini aku mulai akrab dengan kata itu. Entah adalah jawaban dari hampir semua pertanyaanku. Ketika kulempar tanya tentang keberadaanmu, apa yang kau lakukan, bahkan perasaanmu. Akan tetap samakah seperti yang aku kenal? Jawabannya tetap sama: ENTAH.

Ini sudah satu bulan lebih. Bila kau hanya ingin mempermainkanku. Oke, kau menang. Tapi, satu pintaku. Cukup dan segeralah sudahi. Kau takkan pernah benar-benar mengerti apa yang aku rasakan bila kau tak di posisiku. Korban kegantungan hubungan. Aku bahkan bukan baju basah yang pantas kau gantung demi disinari mentari atau terkena sapaan angin. Aku adalah manusia dengan hati tanpa sinar senyum atau sapaan sayangmu. Kau tau? Hatiku terkoyak karna kerinduan bercandu setiap hari dalam sukma. Tentu saja tanpa kamu.

Apa arti hubungan ini? Apakah hanya sekedar status? Ah, tidak sedangkal itu sayang. Hubungan ini yang aku harapkan tak sejalan dengan kenyataan. Aku butuh komunikasi hati, bukan sekedar anggukan belaka. Komunikasi yang tak mengenal dusta adalah komunikasi antara dua hati. Atau, apakah harus kutukar hatiku dengan hatimu agar kita saling mengerti? Ah, andai saja.
"Bila memang diriku tiada lagi di hatimu, di kasihmu janganlah kau paksa. Tapi aku tak mau ini semua berakhir tanpa kata-kata." (Tangga, Akhir yang Indah)
* * *
Faiz menatap layar laptop dan membaca ulang isi email tersebut. Rasa sesal menggantung dalam hatinya. Tetap saja, ia masih dalam euphoria kebingungan sehingga masih diam. Ingin ia segera menekan tombol reply. Tapi, kekosongan sedang berkunjung ke hatinya.

Bererapa menit kemudian, Faiz menekan tombol hijau pada kontak bernama -My Sweet Heart- di handphonenya. Nada dering berbunyi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
"Haloo...." Suara faimiliar itu menyentuh telinga Faiz. 
Suara petikan gitar mengalun dari jari jemari Faiz. Lagu SAYANG dari Ungu mulai mengalun. Terdengar isakan dari sebrang telpon. Faiz tetap bernyanyi.

Entah harus darimana ku memulai kata-kataku
Resah gelisah tak menentu, dari jauh lubuk hatiku

Bukan, bukan keinginanku tuk mencoba meninggalkanmu

Namun tak bisa ku jelaskan, aku takut menyakitimu
Berat rasanya, berat rasanya untuk
Ungkapkan kata meski bualan hati

Sayang maafkan aku ingin putus
Sayang maafkan kita harus putus

Berat rasanya, berat rasanya untuk
Ungkapkan kata meski bualan hati

Sayang maafkan aku ingin putus
Sayang maafkan aku ingin putus

Sayang maafkan kita harus putus
Sayang maafkan aku ingin putus
Sayang maafkan kita harus putus


Wednesday, July 25, 2012

Hilangnya Seorang Gadis

sumber gambar
Menunggu adalah pekerjaan yang melelahkan. Terlebih menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ya, Dilla kini tengah menanti sebuah ketidakpastian. Sejak tiga jam lalu Dilla selalu melirik layar ponselnya, berharap nama itu akan muncul. Nama seorang cowok yang sangat familiar. 

“Tutitutitutituuut….” Nada sms masuk terdengar dari ponsel hitam mengkilat Dilla. Ia melirik nama yang terpampang disana. “Yaah, Tiffa. Tumben dia sms gue.” Dilla membaca pesan itu dengan ogah-ogahan. Isinya cuma nyuruh Dilla buat pergi ke kosannya. Setelah bunyi sms balesan Tiffa tiba, Dilla langsung menjambret jaket dari belakang pintu dan segera meluncur ke kos Tiffa. 

“Dimana dia?” Dilla masih terengah.
“Fany di kamar Dill, tapi kamarnya berantakan banget.” Nada khawatir terlihat jelas dalam suara Tiffa.

Friday, April 20, 2012

My CRAZY day

Holaaaaaaaaaaaaaaaaa J

Sebenernya gue gak mau pura-pura happy kayak gitu dalam memberikan sapaan. Haha because today is my crazy day. Entahlah untuk keberapa kalinya.

Eniweey akhir-akhir ini gue merasakan kejanggalan di mata gue. Setiap gue baca tulisan di malam hari, jadi gak jelas dan kepala gue pusing. Alhasil gue memutuskan untuk pergi ke RSM (Rumah Sakit Mata). YAP, siang tadi gue sama temen gue (@nyitirawati) pergi ke RSM untuk cek bareng-bareng.

Selesai sintaksis, kita capcus. Jam setengah duabelas kita nyampe di lokasi. Pertamanya sih bingung karena gak tau alurnya. Terus nyampe di tempat pendaftaran, gue sama nita langsung ambil nomer antrian. Gue dapet nomer 57 dan nita 58, akhirnya kita NUNGGU sekitar limabelas menitan. Kemudian saatnya giliran gue… (pukul 11.40)

Mbak: “pertama kali kesini ya?”
Gue: “iya”

Mbak: “udah ngisi formulir?”
Gue: “Hah? Formulir? Belum” haha gue jawab seenaknya gara-gara gak tau alurnya.
Mbak: “isi formulir dulu disitu”. Mbaknya nunjukin tempat formulir, lalu dia yang nungguin gue.

Monday, April 9, 2012

Aku Menulis Karena Kau Ada

Wajah yang sama, tubuh yang sama, tapi langkah kaki yang berbeda. Ketika aku berjalan ke kanan, mengapa kau mengambil jalan ke kiri? Tak bisakah kau berbalik dan menyusulku di jalan sebelah kanan? Asal tempat kita sama, lantas mengapa tujuan kita berbeda? Saat kita di jalan yang sama, genggaman tanganmu begitu erat. Hangat. Tanganmu selalu hangat sehingga pori-porimu terlalu sensitif ketika bersapa dengan dinginnya udara. Bahkan kukumu akan berwarna biru lebam saking dinginnya. Masihkah kau ingat ketika kita selalu menyamakan langkah bahkan irama kaki kita?

Saturday, March 31, 2012

Penasaran dalam Pencarian

Satu jam setengah sudah saya duduk di ruangan yang sama dengan kemarin sore. Bedanya, di sebelah saya telah duduk seorang cowok, mahasiswa entah semester berapa dan jurusan apa. Tak terdeteksi. Yang terlihat jelas adalah rambut sebahu dengan belahan di tengah. Cowok itu memiliki ciri yang saya anggap berasal dari fakultas yang sama dengan saya. Dia tipe cowok yang kalau gak "nyastra" atau "nyeni" atau "nyeleneh". Terkadang wajah seseorang tidak selalu bisa menjawab pertanyaan masalah umur. Tapi kalau boleh saya menaksir, dia semester 6.


Sedari tadi,

Thursday, March 8, 2012

Kesempatan yang Hilang



Apakah kau masih orang yang sama dengan yang aku kenal lima tahun silam? Apakah kau masih orang yang sama dengan lelaki kurus dan tinggi yang selalu kulihat di depan kelas? Apakah kau masih orang yang sama dengan si pintar dari kelas X.3? Apakah kau masih orang yang sama dengan cinta pertamaku?

“Aku adalah orang yang sama, tapi rasa itu yang berbeda.” Ucapnya pelan.
“Kenapa?”

Aku tertunduk saat kamu pergi begitu saja. Kamu hanya datang untuk mengatakan itu. Kamu hanya menjawab pertanyaan dengan kebingungan yang semakin besar. Hanya kalimat itu. Tetes air mata jatuh seiring dengan langit meneteskan air matanya di atas rambut sebahuku.

Sunday, March 4, 2012

alasan itu kau

Aku selalu yakin, maka dari itu aku menunggu. Menunggu itu melelahkan, kita semua tau itu. Tapi aku ingin melakukannya untukmu. Pernahkah kau memiliki sebuah keyakinan yang menurutmu itu akan terjadi suatu saat nanti? Aku punya itu. Dan keyakinan itu yang membuatku ada di tempat parkir ini. Kau.

Ya, kau adalah alasan.

Orang selalu menganggapku aneh, jelek, egois, penjajah, ilegal. Wajar, lumrah, dimaklumi. Mereka tidak kenal aku. Mereka tidak tau latar belakangku. Aku wanita yang selalu tabah dan kuat. Terserah mereka mau judge aku seperti apa. Toh aku tetap akan menunggumu, bagaimanapun juga.

Karena yang aku tau. Kau adalah alasanku.

Berharap ada satu kendaraan yang aku kenal. Merah marun, warna kesukaanmu dengan tanda kendaraan 'K'. Jaket kumal, jeans belel, rambut acak-acakan, kacamata hitam. Helm yang kupilih saat kita pergi kencan untuk ketiga kalinya. Selalu tersenyum dalam hati bila kuingat semuanya. Kapan kau kembali?


Alasanku disini karena kau.


 Selembar seribu untuk satu motor dan dalam satu jam aku mendapatkan dua puluh motor sedangkan aku bekerja untuk waktu tiga sampai empat jam. Kau bisa bayangkan itu bukan? Apakah kalian pikir aku puas dengan semua yang aku dapatkan?

TIDAK!! Tidak sama sekali. Karena kau adalah alasanku.

Langkahmu mungkin tidak untuk berjalan kearahku. Tapi aku yakin bahwa Tuhan punya kehendak yang lebih besar dari keinginan kakimu. Aku selalu berdoa setiap waktu bahwa kau akan menjadi alasan yang tepat untukku. Tidak perduli seperti apa kita dulu. Tak perduli seberapa buruk tubuhmu dalam tanah itu.

Kau tetap alasanku…untuk menunggu di tempat yang sama.


that's me
@Rospita_NF



Saturday, March 3, 2012

Katakanlah! Jangan kau tuliskan lagi


Katakanlah, jangan kau tuliskan lagi karena Tuhan telah memberimu mulut untuk berucap. Suaramu jauh lebih merdu dari tuts piano Mozart, aku selalu yakin itu. Namun kau tak pernah menunjukkannya padaku. Ketika sudut mataku menjatuhkan bulirnya karena dia, kau selalu memberikanku gambar kartun yang membuatku tertawa. Tak bisakah kau ceritakan lelucon saja?

Katakanlah, jangan kau tuliskan lagi. Tidak lelahkah jarimu mengapit pena dan menuangkannya di atas kertas biru, warna kesukaanku. Aku bisa membaca tingkahmu, apa yang kau pikirkan tertulis dalam wajah indahmu. Tapi aku ingin bisikan kalimat itu. Kalimat yang setiap perempuan ingin dengar dari lelakinya.

Katakanlah!! Jangan kau tuliskan lagi. Aku mohon.

Ketika aku mulai berada pada puncak frustasiku. Kau hadir di depanku. Datang tiba-tiba begitu saja. Dengan kaos biru dan kemeja hitam bergaris. Mata kita bertemu. Tatapan itu yang selalu membuatku yakin bahwa itu kau. Sorotan mata yang selalu tajam dan meyakinkanku saat lemah. Kau peluk aku dengan hangatnya.

Aku menulis bukan karena aku bisu, tapi aku tak tau cara untuk mengungkapkan betapa besarnya rasa cintaku padamu. Aku menulis untuk menghapus catatannya sehingga kau hanya akan membaca aku.”

Dugaanku benar kan? Suaramu lebih merdu dari tuts piano Mozart :)



that's me
@Rospita_NF

Monday, May 3, 2010

Be Careful , TRY OUT !!

Bel berbunyi dua kali,
Tanda dimulainya suatu awal perjuangannya.

*Its Show Time*
Pekiknya membatin.


Ia mulai mewarnai lingkaran-lingkaran kecil yang sangat banyak.

Nyaris pusing ia dibuatnya.

Padahal masih banyak lingkaran yg belum terwarnai.


Tapi ia memang gadis pantang menyerah.


Tak perduli dengan peluh keringatnya, panasnya suasana siang itu.


Dan akhirnya..
Yaikz !
Salaaah !


Ia mengambil benda karet padat berwarna hitam, lalu menggosok-gosokkan pada lingkaran berhuruf ke 17 itu


Lalu...fiiuuuhh !
Ia menghembuskan angin dari mulut naganya


Ffuuuuftt !!
Setetes cairan terlempar berbarengan dengan tiupan angin itu


Seorang wanita berusia kepala empat menghampirinya, seraya berkata *Waaaahh, tangannya keringetan ya!*


Sang gadis tercengang, ketika wanita itu mengangkat kertasnya setinggi hidung dan meniup-niupkannya.
Sungguh ekstrim wanita itu ! Batinnya.


*emang ga bau ya bu? Padahal saya belum sikat gigi lho !*Lanjutnya


Setelah itu,
Wanita tersebut meninggalkannya !




TRUE STORY from ONE OF STUDENT did TRY OUT last year !

Belum Saatnya

Anak lelaki itu menghampiri Frizka yang tengah terduduk di depan teras rumahnya. Sendiri. Dengan cekatan anak lelaki itu melompat ke depan wajah Frizka dengan tampang lugunya.


"Ada apa?" Frizka enggan meliriknya.
"Gak ada apa-apa kok. Cuma pengen tanya aja." Ucapnya polos.

Frizka mengerutkan dahinya. Tetap tak menatap orang yang muncul tiba-tiba itu.


"A..aku sa..yang... A..a..a..kuu cinta sama kamu. Ka..ka..mu sa..yang dan cinta juga ga sa..ma akk..uu?" Ucapannya tersendat-sendat, seperti ada batu kerikil yang menghalangi pita suaranya.
"Hmhm... Fikir-fikir dulu ya!" Ucap Friska sekenanya.
"Kok fikir-fikir dulu?" Ulangnya heran.


Seorang pria lain sekitar usia kepala tiga mendekat ke arah mereka. Membuat anak lelaki itu lebih mendekat ke tubuh dingin Frizka.


"Adee... Mam dulu ya! Kamu kan belum minum obat. Entar tambah parah lho sakitnya!" seru pria itu.
"Enggak mau. Ade udah punya dokternya kok !"
"Jangan bandel! Ganggu Kak Frizka gitu!"
"Aahh, ayah nyebelin!"

Pria itu menuntun putra bungsunya. Frizka hanya mengembangkan senyum kepada anak tetangga barunya itu.


Esok harinya, Frizka melihat anak lelaki kemarin sore dengan seragam putih-merahnya. Sangat lugu. Lalu anak itu mendekat. Frizka setengah jongkok. Anak itu mendongakkan wajah dan mendekatkan wajahnya ke telinga Frizka seraya berkata..
"I LOVE YOU, tunggu aku 10 tahun lagi ya!"


Frizka menelan ludah !
Gleeekk !

Thursday, April 29, 2010

Sepenggal Kisah

malam itu hujan turun dengan derasnya. Ve duduk di sofa sambil meneguk segelas teh hangat yang baru ia buat. keadaan malam itu sunyi, sepi, nyaris tak ada suara. Capek yang tadi hinggap di tubuhnya, tiba-tiba menghilang setelah mengingat kejadian tadi siang.

"Apakah ini CINTA? Cinta bagai angin, yang tak dapat disentuh tapi dapat dirasakan. Cinta juga datang dsan pergi sendiri bagai JELANGKUNG. apakah ini hanya perasaan sesaat? atau ini benar-benar cinta yang akan membawaku ke dalam kebahagiaan?" Ve membatin.

Lalu ia beranjak ke kamarnya dan berniat untuk mengerjakan tugasnya yang telah menumpuk sejak kemarin.

Percuma saja, ia tak akan bisa mengerjakannya dengan baik. Yang ada dalam fikirannya hanya wajah manis itu. Akhirnya ia hanya bisa merebahkan tubuhnya dan menerawang jauh ke dalam dunia khayalannya.

Tiba-tiba ia teringat akan puisi itu. Puisi yang membuatnya bertahan sampai sekarang. Sebait puisi dari bocah lelaki yang lugu. Puisi yang diberikan untuknya, jauh sebelum ia bertemu dengan wajah manis itu.

indah wajahmu membuatku terpesona
indah suaramu mampu luluhkan sudut beku hatiku
kau buat nafasku terhenti sejenak kala aku memandangmu kagum
ku ingin kau menjadi mentari kuningku yang setia menghangatkan jiwa dikala dingin menerpa
kau tahu? aku takkan pernah menjadi penipu seperti duri dalam eloknya mawar
jadilah bagian dari hidupku seperti bintang yang menemani malam kala langit tak bercahaya