Pages

Search Upil on This Blog

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

BERIKAN SATU SPASI!

Ia menatapku penuh angkuh, tajam.
Seirama detak waktu yang bergidik.
Nafas tersengal, aku kalah.
Bias rindu yang tak terlihat mendekap erat
tubuhnya dan tubuhku.
Masihkah harus kumengemis pada jarak?
Haruskah mengais harap penuh pada jarak?
Sayang, tidak inginkah kau saja yang meniti jejak?
Sedang aku mengintip dari tirai jendela
atau daun pintu seperti anak kecil yang menunggu.
Menunggu es nong-nong lewat dengan mata berbinar.
Mengulum senyum dan melihat jarak yang tak lagi semu.
Terkekang dalam jarak.
Tersungkur dalam jarak.
Tertimbun dalam jarak.
Jatuh berdebam dalam jarak.
Lantas mengangkat tangan pada Sang Maha.
Mengharap uluran jarak pada kaki
yang terlampau lelah tuk menyusuri batasnya.
Kutak ingin mati karena jarak.
Antara kau dan aku harus ada satu spasi.
Tak lebih, tak kurang. Itu cukup.
Ah omong kosong kehidupan macam apakah ini?
Lekas berikanlah satu spasi saja!
Jarak. Jarak. Jarak. Jarak. Jarak.
Ja-rak. Ja-rak. Ja-rak. Ja-rak. Ja-rak.
J-a-r-a-k. J-a-r-a-k. J-a-r-a-k. J-a-r-a-k. J-a-r-a-k. J-a-r-a-k.
J - a - r - a - k
JAHARA KAU!

Thursday, December 19, 2013

Kepada Sang Pemberi Harapan

Suatu hari yang cerah
Matahari tersenyum syahdu
Belaian angin meninabobokanku
Yang tersandar di bahumu yang kokoh
Kau raih gitar yang tergelatak
Di sebelah kaki berbulumu
Kau alunkan melodi-melodi merdu itu
Membuai telingaku dengan lagu Depapepe
Disela petikan gitar dan belai angin
Kau bercerita tentang waktu, tentang aku, dan tentang kita
Aku menutup mata
Mencoba memvisualkan ceritamu dengan ilusiku
Aku menahan nafas, berdecak kagum
Tanpa perintah, bulir air tiba-tiba menetes
Bersama harapan yang kini sudah melambung tinggi sekali
Lalu, dalam waktu yang tak pernah kuduga
Kau pecahkan balon harapanku
Yang tak sempat kuberi tali atau kuikat di tanganku
Kau pecahkan dengan jarum kebohongan
Kau tau?
Bukan saja harapan yang pecah, aku pun terjatuh
Kau membuatku berdebum keras di atas tanah kepalsuan
Sedang cairan kecewa yang pekatnya melebihi darah
mengalir perlahan dari buaian ilusiku sendiri
Kau luka aku.
CIH!

DI ATAS AKAR

Beberapa daun berguguran
Membelai wajah, sedang kita terduduk
Sambil menyeruput coklat yang masih panas
Tepat di atas akar-akar tua
Sendu itu.
Kau bercerita dengan tatapan beda
Tanpa kernyitan dahi,
Tanpa lekukan lesung pipit,
Dan tanpa tatapan mata yang riang
Kau bercerita yang membuatku tak habis pikir
Dengan mudahnya, kau bilang ingin mati kala hujan
Dan membiarkan ragamu hanyut begitu saja
Bersama hujan
Kutampar kau sampai tapak tanganku memerah
Melekat erat di pipi kirimu
Bodoh! Harusnya kau memintaku untuk mengkremasimu
Lalu, kuseduh abumu bersama coklat yang masih panas
Bersama sendu yang akan kukantongi ini
Dan tentu saja bersama daun yang berguguran

KUCARI KAU


Malam masih saja sendu
Hujan masih saja turun dengan riang
Kecipak air yang sengaja kuinjak-injak
Di depan beranda rumahku
Harusnya kutemui rindumu
Harusnya terselip bayangmu
Akhirnya,
Kuputuskan tuk bertanya pada lampu
Yang tergantung anggun
Mungkinkah lampu itu melihatnya?
Melihat rindu dan bayangmu yang bersembuyi
Atau mungkinkah aku yang menyembunyikannya?
Kurogoh saku celana biruku
Sebuah kertas kutemukan di dalamnya
Pattimura dalam kertas yang kupegang
Ternyata masih berkumis
Lantas, kemana rindu dan bayangmu?
Kemudian aku masuk ke dalam rumah
Kutemukan semangkuk mie terhidangkan di atas kaca yang dingin
Masih hangat, kucicip saja
Ah, ternyata hambar
Mungkinkah sekarang kau berteman dengan mie di atas meja kaca yang dingin itu?

Saturday, August 25, 2012

rasa itu bernama Rindu

Tuhan, rasa itu serasa familiar
candu yang kau tabur terlalu liar
malamku yang tak menentu
menembus batas rasa rindu

Rindu.
Aku merinduinya.
Rindu yang tak dikenalnya.
Karena hatimu tidak memfollow hatiku.

Ketika rindu itu memeluk malamku,
apakah itu sebuah pilihan?
Kurasa itu takdir.
Percayalah.




Saturday, July 7, 2012

Sajak Buka Pintu (2)

Ini sebuah kisah
Seseorang mengetuk pintu
Nada ketukan yang merdu
Bagai nyanyian burung di musim semi
Salam terlantunkan
Pintu terbuka
Sebuah senyum indah melengkung
tepat mengenai hati
Seseorang masuk dengan aura kebahagiaan
Sebuah cinta terangkai di antara mereka
Melalui pandangan yang menyejukkan
Antara seseorang yang mengetuk pintu
dengan seseorang yang membukakan pintu
Pintu selalu terbuka ...
kepada orang yang berhati lapang
kepada waktu yang terizinkan
kepada tempat yang sesuai




13 Juni 2012


Monday, June 18, 2012

Sajak Buka Pintu (1)

Ini sebuah cerita
Seseorang mengetuk pintu
tidak perlahan juga tidak keras
Biasa saja
Ia hanya mengetuk tanpa memberi salam
Seorang yang lain membuka pintu
Ia bertanya hendak apa
Tidak terjawab
Hanya diam dan bungkam
Lalu pintu tertutup
Seorang yang mengetuk pintu terpaku
Berbalik badan
Daun kamboja berguguran dalam batinnya

13 Juni 2013


Thursday, June 14, 2012

Sang Senyuman

Lengkung senyuman
Membingkai raut wajah bahagia
Duduk di bawah buaian mentari
Bersama secangkir teh manis
Ah, senyumanmu masih termanis
Masihkah senyuman itu tak bertuan?
Kanan, selalu kau tolehkan arahmu kesana
Apakah kiri bermakna buruk?
Izinkan aku menyelami senyum itu
Aku ingin mencumbu makna senyum itu
Iya, kini aku menemukan diriku dalam harap
Harapan bahwa akulah yang kau toleh
Sehingga aku bisa mencumbu dengan utuh
Akankah senyum itu hanya untukku?


13 Juni 2012

Sunday, April 29, 2012

Sajak-sajak Sepatu Tua

sumber gambar
Seorang maestro seni Indonesia, WS Rendra mengumpulkan 38 puisinya menjadi sebuah buku dengan judul Sajak-sajak Sepatu Tua yang bukunya diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada sekitar tahun70-an. Secara umum kumpulan puisi ini dengan jelas memberikan gambaran gamblang tentang dunia Rendra yang di Indonesia merupakan suatu dunia unik yang selalu menarik perhatian. Kumpulan puisi ini terbagi atas dua bagian dan satu kumpulan puisi berjudul Masmur Mawar, bagian pertama memuat sepuluh puisi, bagian kedua memuat tigabelas puisi, sedangkan kumpulan puisi Masmur Mawar memuat limabelas puisi. Masing-masing bagian memiliki benang merah yang berbeda. 

Saturday, October 15, 2011

BERNYANYI dengan BILANGAN

dua belas dari dua puluh empat
mereka bernyanyi
dua dari tujuh
mereka merintih
tujuh dari tiga puluh
mereka nomaden
tak ada untaian kata terindah
ketika kala memeluk satu dari
tiga ratus enam puluh lima
penglihatan batin mereka keruh
namun terlalu keras untuk dihindari
mereka hanya bernyanyi untuk
seribu delapan ratus dua puluh lima

HELAI JIWA

Melihat sekelumit helai jiwa tak perawan
tanpa dosa
Salah! Dosa itu ada hanya sudah
membusuk dalam rumah alkohol
Pemberi Maaf masih melihatnya
namun ragu memberi
Helai jiwa meraung di depan surau
tetesan air itu tidak bisa menyucikannya
meski sampai merah
Maaf jatuh ketika yang membusuk
telah hilang dengan khidmat

Saturday, February 19, 2011

Ku Lempar Tanya

siapa yang akan mendengarkan degup jerit hati ketika tak seorangpun mampu mendengarnya?
siapa yang akan melihat tawa pahit ketika tak seorangpun mampu melihatnya?
siapa yang akan merasakan sakit berdebam ketika tak seorangpun mampu merasakannya?
siapa yang akan menyentuh jiwa kosong ketika tak seorangpun mampu menyentuhnya?
siapa yang akan merubah segenggam tangis ketika tak seorangpun mampu merubahnya?
siapa yang akan merangkul bahu rapuh ketika tak seorangpun mampu merangkulnya?
siapa yang akan mengayun kala yang tertindas ketika tak seorangpun mampu mengayunnya?
siapa yang akan membelai panas dalam kalbu ketika tak seorangpun mampu membelainya?
siapa yang akan merobek luka lirih ketika tak seorangpun mampu merobeknya?
saipa yang akan mengganti mentari dalam gulita ketika tak seorangpun mampu menggantinya?
SIAPA ??
aku bertanya dalam kelam
pada kalian yang merasa hidup ini sempurna
pada seonggok nyawa yang merasa tak berdosa
pada mereka yang merasa perduli
pada serpihan jiwa kosong
ketika ku lempar semua tanya
kau bahkan membungkam ketika mulut serta lidahmu
masih mampu menyuarakan apa yang dinamakan ucapan
dimana kalian?
tawa getir kusunggingkan
sungguh aku berkata pada diri yang angkuh
semua tanya yang aku dapatkan jawaban dalam sujudku .
Engkau Maha SEMPURNA, Ya ALLAH ..

Thursday, December 2, 2010

itu DULU !!

terukir jelas jejak celotehnya
kala senda gurau bergeriliya
menjamah ukiran kalbu yang terkoyak
kau tancapkan pandangannya padaku
teduh, nyaman dan menusuk
terpatri senyum dalam buaian kasih
senyum itu yang menggerayangi matahari dan bulanku
aku jatuh berdebam dalam cakrawala hatinya
yang dulu selalu aku hitung gemericik tetesnya
tertuju padaku
DULU !!

misteriku

dalam heningku
jiwa ini membisu
dalam heningku
raga ini tetap membeku
terdiam dan terpaku
kala tawamu tak lagi terdengar
kala senyumanmu tak lagi tampak
ketika langkahmu tak lagi berpijak
ketika matamu tak lagi terbuka
kemana aku harus bertanya?
kemana ku cari jawab?
KEMANA?
kenyataan menampar khayalan
ku lihat dirimu disana
tak bernyawa lagi

Monday, May 3, 2010

Mungkin

Mungkin ..
ini terlalu pelik
ini terlalu rumit

Mungkin ..
telah sirna
telah memudar

Mungkin ..
Kelak akan pergi
Kelak akan mati

Mungkin ..
Tatkala ku terdiam
Tatkala ku tersudut
kau tetap disitu
memandangku angkuh

Mungkin ..
waktu takkan pernah kembali
Rapi aku tetap yakin
Hatimu kan kembali

Friday, April 16, 2010

Ketika Pagi

Ketika pagi, ku tanyakan pada angin.
Siapa aku ?
Anginpun menjawab dengan hembusan kencangnya.
Ya, aku hanya makhluk rapuh yang kalah oleh sang angin.
Lalu, aku bertanya pada tanah.
Dimana aku ?
Lalu tanahpun menjawab dengan goncangannya.
Ya, aku hanya makhluk hina yang hidup diatasnya.
Lalu,aku bertanya pada mentari.
Bagaimana aku hidup ?
Ia hanya tersenyum dengan lembutnya, membuat mataku tak kuasa melihat keanggunannya.
Aku hidup karena ada mereka.
Ya, mereka adalah orang-orang yang menyayangiku.
Keluargaku, teman-temanku serta sahabat-sahabatku.
Kapan ini akan berakhir ?
Kini, hatiku yang menjawab.
Semuanya takkan pernah berakhir.
Mereka tetap ada dalam setiap nadi dan darah ini.
Karena mereka orang-orang yang berharga dalam lembaran kehidupanku.
Mereka mengisi lembaran kosong, dengan coretan-coretan indah, melebihi coretan sang pelukis.
Tatkala raga ini dipanggil-Nya.
Apakah mereka tetap ada ?
Ya, tentu saja. Karena mereka takkan pernah ikut pergi bersama ragaku.
Mereka tetap yang terbaik dalam setiap helai perjalananku.
Karena mereka juga adalah sumber inspirasi terbesarku.
Sehingga aku dapat merangkak dan berdiri disini.

Thursday, November 26, 2009

Kini

Waktu menelan semuanya
Menyisakan jiwa yang kosong
Sebuah jiwa yang hilang akan tujuan
Jiwa yang kehilangan arahnya
Tak tau akan berjalan atau terdiam
Awan kelam mulai menghampiri
Hujan menyapu semua lamunan
Senja tu
membawaku ke dalam kesepian
yang tak berujung
Namun kau hadir
membawa secercah cahaya
Cahaya yang mengusir gelap
Ombak kesepian
Perlahan surut
Gelombang kesunyianpun berhenti
Luka hati yang tertoreh
Kini kembali meletupkan kerinduan akan desir-desir aliran cinta
kau bawakan aku jarum dan bnang
Lalu Perlahan kau jahitkan setiap sudut hati yang terluka
kau sempurnakan puzzle-puzzle hatiku
Dan kau kumpulkan serpihan-serpihan hidup ku yang berhamburan
Menyusunnya dengan segenap kasih sayang
Aku tak lagi terasing dlm sepi
Kini

Tuesday, October 27, 2009

Rasa yang sama

Apa yang terjadi dimasa lalu
tak mungkin dapat kembali
Apa yang ku rasa di masa itu
masih saja membekas di hati ini
Masihkah ku percaya bahwa waktu bisa mengobati ku?
Masih kah ku percaya pada seseorang yang mencoba buatku hancur?
aku hanya makhluk yang rapuh
Yang sulit tuk melebarkan sayap saat cinta pergi
Jangan buat hati yang telah ku susun ini menjadi hati yang hancur lagi dan berkeping-keping berantakan
ku sudah bosat untuk menyusun kepingan puzzle hati ini
Menjahit setiap sudut hati yang Luka
Merangkai menjadi hati yang utuh
Kata-katamu dulu yang membuat ku melayang
Seakan tak berarti dan tak berharga lagi bagiku