Pages

Search Upil on This Blog

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, April 20, 2012

My CRAZY day

Holaaaaaaaaaaaaaaaaa J

Sebenernya gue gak mau pura-pura happy kayak gitu dalam memberikan sapaan. Haha because today is my crazy day. Entahlah untuk keberapa kalinya.

Eniweey akhir-akhir ini gue merasakan kejanggalan di mata gue. Setiap gue baca tulisan di malam hari, jadi gak jelas dan kepala gue pusing. Alhasil gue memutuskan untuk pergi ke RSM (Rumah Sakit Mata). YAP, siang tadi gue sama temen gue (@nyitirawati) pergi ke RSM untuk cek bareng-bareng.

Selesai sintaksis, kita capcus. Jam setengah duabelas kita nyampe di lokasi. Pertamanya sih bingung karena gak tau alurnya. Terus nyampe di tempat pendaftaran, gue sama nita langsung ambil nomer antrian. Gue dapet nomer 57 dan nita 58, akhirnya kita NUNGGU sekitar limabelas menitan. Kemudian saatnya giliran gue… (pukul 11.40)

Mbak: “pertama kali kesini ya?”
Gue: “iya”

Mbak: “udah ngisi formulir?”
Gue: “Hah? Formulir? Belum” haha gue jawab seenaknya gara-gara gak tau alurnya.
Mbak: “isi formulir dulu disitu”. Mbaknya nunjukin tempat formulir, lalu dia yang nungguin gue.

Monday, April 16, 2012

Inilah Pengakuanku

sumber gambar
Tepat setelah kamu merubah hubungan kita menjadi teman, kau masih berpikir bahwa kamu milikku. Hati ini masih menolak kenyataan. Apa namanya kalau bukan cinta? Heey, aku rela melakukan apapun untukmu. Bahkan mati. Mungkin kau sudah hapa itu. Tapi tetap saja, kau tak bisa melakukan apa yang aku lakukan. Sehingga kamu berkesimpulan bahwa tidak ada lagi kata cocok diantara kita.

Satu minggu berlalu, aku masih melakukan aktivitas yang mungkin telah menjadi rutinitasku. Mengirim pesan teks di tengah malam. Kau juga sudah paham, aku adalah lelaki yang suka terbangun ketika kamu masih asik dengan mimpimu. Pesan teks yang dulu berisi tentang kita, kini harus kuganti dengan kamu dan aku.
"malam masih sama, bentuk bulan yang berbeda. Hati masih sama, hanya rasanya berbeda. Semoga kamu bahagia.”

Sunday, April 8, 2012

Lantai Kehidupanku


Langkahku semakin cepat ketika ku lirik jarum jam tangan silverku telah memeluk angka satu dan dua belas. Suara sepatuku mengiri irama gerakan kaki yang tak henti melangkah di atas lantai marmer bening kecoklatan. Setelah berbelok di koridor sebelah utara lobi, perlahan aku membuka pintu ruang meeting lantai satu. Disana telah duduk sepuluh orang hebat dengan pakaian mewah yang melekat erat. Pria dengan dasi dan jas bermerk, serta wanita dengan bajunya yang berwibawa dan terlihat kontras berbeda dengan kasta sudra sang OB yang sedang menyuguhkan minum kala itu.
Aku berdeham sejenak, “maaf saya terlambat lima menit.”
Pria setengah baya mempersilahkan duduk di atas kursi empuk itu dan aku segera bergabung dengan mereka tanpa rasa canggung karena sudah lima tahun lebih aku bergelut dan membaur dengan dunia mereka.

Tuesday, July 13, 2010

Thanks, Bagas .. !!



Pagi itu aku terbangunkan oleh sinar mentari yang masuk lewat jendela disebelah Timur kamarku sehingga terpantulkan cermin tepat ke arah wajahku yang tertutup selimut. Cahayanya begitu menyilaukan. Hari ini menjanjikan sebuah kecerahan, mungkin ini gantinya hari kemarin yang hujan. Aku menarik kasar handuk yang dikaitkan di belakang pintu dan melingkarkannya di leher. Tak lupa satu setel pakaian bersih pun aku ambil dari lemari.
“Ternyata kau ingat bangun juga?” Sindir Bagas yang dengan santainya duduk didepan TV dan memainkan remote mencari channel. Perkataannya membuatku tak nyaman. Lagipula ini aneh, tak seperti biasanya ia kemari sepagi ini.

Tuesday, April 20, 2010

Misteri Hati


“Inget Din, hati seseorang emang gak ada yang tahu kayak gimana. Hati itu bisa aja gak konsisten, hari ini bilang ‘A’, mungkin aja besok jadi ‘B’, ya kan?”
Kata-kata Ocha tadi siang sekan menghantui fikiran Dinda. Sejak ia dikecewakan oleh cowok untuk yang kedua kalinya. Ia tak pernah lagi percaya dengan mulut manis cowok.
Semua berawal ketika kelas dua SMP Dinda menyukai Fido, salah satu cowok termanis di sekolah. Pada mulanya ia hanya kagum, namun ternyata ia malah jatuh cinta pada Fido dan akhirnya jadian saat kelulusan SMP. Hubungan mereka pada mulanya adem ayem, penuh cinta, kasih sayang, pengertian dan rayuan gombal Fido. Tapi lama-lama Dinda mulai ilfeel dengan kebiasaan buruk Fido yang pelupa dan keras kepala.
“Fido, hubungan kita cukup jadi temen aja ya?” Pinta Dinda.
“Lho! Kamu kok bilangnya gitu? Emangnya kenapa?”
“Kayaknya aku udah gak tahan sama sifat buruk kamu.”

Friday, April 2, 2010

Telpon Misterius


Di malam yang dingin Syeril terdiam di sudut kamarnya, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Entah apa yang ia fikirkan. Namun tiba-tiba ia beranjak karena ponselnya berdering. Terlihat di layar ponsel itu Private Number.
“Hallo...” ucap Syeril pelan. Lalu ia menunggu jawaban dari sang penelpon. “Hallo, siapa ya ?” tambah Syeril dengan suara lebih keras. Lagi-lagi ia mendapat telpon dari orang iseng. Hampir satu minggu ia mendapat telpon itu setiap malam dan hampir pada waktu yang sama, yakni setelah ia makan malam. Syeril sedikit paranoid karena hal ini, namun ia juga penasaran siapa dalang dibalik semua itu.
Keesokan harinya lagi-lagi Syeril bengong di sekolah saat pelajaran berlangsung. Anehnya, tak ada satupun guru yang menegurnya kecuali Dira, sahabatnya.
“Wouy! Ngapain bengong? Pelajaran udah mulai dari tadi tuh!” Dira mengagetkan.
“Ups, gue bingung nih Dir,” jawab Syeril pelan.

Saturday, December 19, 2009

Just Dream


Pagi itu aku sangat gelisah, mondar-mandir di kamar sambil mengingat-ingat mimpi aneh tapi begitu nyata yang aku alami semalam. Berharap mimpi itu takkan hilang dalam memory-ku, aku pun menuliskan alur mimpi itu disehelai kertas kosong.
Saat di sekolah, aku bersikap tak seperti biasanya. Entahlah apa yang terjadi pada diriku, sampai-sampai aku lupa untuk menyisir rambut.
”Ris, kamu kenapa? Tumben banget lupa nyisir rambut kuntilanak kamu.” Tanya Lani, sahabatku.
Memang rambutku yang cukup panjang membuat predikat RaKun alias Rambut Kuntilanak menempel pada diriku. Tapi aku rasa itu lebih baik jika dibandingkan Mona yang diberi julukan RaMat alias Rambut Mati oleh anak sekelas. Karena menurut gosip, rambut Mona sejak SMP tak pernah tumbuh panjang, tetap sebahu.
”Hallooooo, kok malah bengong sih?” Imbuh Lani sambil memetik-metik jarinya didepan wajahku.

Saturday, December 12, 2009

Sesalku


Liburan kali ini Sissy dan Vera pergi ke rumah kak Vega, kakanya Vera yang berada di Puncak. Saat itu hujan turun dengan derasnya, Sissy dan Vera yang semula akan menikmati pemandangan yang indah, jadi batal dan Sissy sangat bad mood karena hal itu.
“Duuh.. kita mau ngapain nih? Hujannya tuh gede banget.” Gerutu Sissy.
“Ye... namanya juga hujan, datangnya dari Tuhan. Masa kita mau halang-halangin sih? Ngaco kamu!” Sahut Vera sambil menyeruput cappucinonya.
“Aku kan jadi gak bisa foto-foto dan lihat pemandangan indah disini.” Sissy memandang keluar jendela dengan tatapan nanar. Seolah tak bisa foto-foto saat pemandangan indah kayak gini akan menimbulkan bencana besar.
”Dasar kamu, banci kamera. Gak bisa lihat objek bagus dikit, langsung jepret.” Vera meletakkan cappucinonya di meja kecil. Lalu menarik selimut yang telah ia siapkan ke separuh tubuhnya.