Pages

Search Upil on This Blog

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Thursday, December 19, 2013

DI ATAS AKAR

Beberapa daun berguguran
Membelai wajah, sedang kita terduduk
Sambil menyeruput coklat yang masih panas
Tepat di atas akar-akar tua
Sendu itu.
Kau bercerita dengan tatapan beda
Tanpa kernyitan dahi,
Tanpa lekukan lesung pipit,
Dan tanpa tatapan mata yang riang
Kau bercerita yang membuatku tak habis pikir
Dengan mudahnya, kau bilang ingin mati kala hujan
Dan membiarkan ragamu hanyut begitu saja
Bersama hujan
Kutampar kau sampai tapak tanganku memerah
Melekat erat di pipi kirimu
Bodoh! Harusnya kau memintaku untuk mengkremasimu
Lalu, kuseduh abumu bersama coklat yang masih panas
Bersama sendu yang akan kukantongi ini
Dan tentu saja bersama daun yang berguguran

KUCARI KAU


Malam masih saja sendu
Hujan masih saja turun dengan riang
Kecipak air yang sengaja kuinjak-injak
Di depan beranda rumahku
Harusnya kutemui rindumu
Harusnya terselip bayangmu
Akhirnya,
Kuputuskan tuk bertanya pada lampu
Yang tergantung anggun
Mungkinkah lampu itu melihatnya?
Melihat rindu dan bayangmu yang bersembuyi
Atau mungkinkah aku yang menyembunyikannya?
Kurogoh saku celana biruku
Sebuah kertas kutemukan di dalamnya
Pattimura dalam kertas yang kupegang
Ternyata masih berkumis
Lantas, kemana rindu dan bayangmu?
Kemudian aku masuk ke dalam rumah
Kutemukan semangkuk mie terhidangkan di atas kaca yang dingin
Masih hangat, kucicip saja
Ah, ternyata hambar
Mungkinkah sekarang kau berteman dengan mie di atas meja kaca yang dingin itu?

Thursday, December 12, 2013

Hello Desember



Hello, Desember.
Seharusnya saya senang bertemu denganmu lagi. Bulan yang paling saya tunggu selama tahun 2013. Penghujung, dan akan menjadi penentu. Tentu saja akan menjadi bulan refleksi diri. Ah, bukan tentu saja, seharusnya. Ah sudahlah.

Ketika saya ketik kata "Desember" pada mesin pencarian gambar, kenapa semuanya tertuju pada salju, natal, dingin. Ah, mungkin karena Desember dingin, maka saya menjadi pribadi yang dingin? Hanya terkaan belaka. Tak adakah yang lebih menyenangkan dari mentari bulan Desember? Ada. Seharusnya. Lagi-lagi menjadi keharusan, keharusan yang sebenarnya tidak nyata.

Mentari Desember memang menyenangkan, ketika tertutup awan hitam. Saya sedih. Tapi kesedihan saya sekarang bukan karena kehilangan mentari di langit. Tapi kehilangan mentari yang biasa bersinar di waktu siang dan malam. Memang ada? Ada. Kamu yang bersinar di hati saya. Saya juga baru sadar, bahwa mentari itu kini telah tenggelam. Benar-benar tenggelam dan tak pernah muncul kembali.

Haruskah saya menyesalinya? Seharusnya.
Andai saja.
Tapi, yasudahlah.

Selamat datang Desember, selamat menikmati hari-hari yang hambar di depan wajah saya.

Tuesday, November 12, 2013

Nyeseknya Mahasiswa Tingkat Akhir

  
Pernah gak pada suatu pagi, di saat lu bangun tidur. Terasa nyesek banget? Bukan nyesek karena (maaf) suatu penyakit. Tapi lebih karena batin. Iya, temen gue (gue pun meng-amin-kan) merasakan hal yang serupa di kala bangun tidur. Bedanya, temen gue cuma kerasa nyesek setiap hari senin, dan gue hampir setiap hari.

TANYA KENAPA?

Setiap manusia diberikan waktu yang sama oleh Tuhan, 24 jam. Hanya orang-orang yang mampu memanfaatkan waktu yang sama tersebut yang akan menjadi pemenang. Waktu terasa terlewatkan begitu saja, sia-sia. 

Jujur, semester ini sebenarnya tidak terlalu banyak beban mata kuliah. Hanya 8 sks, 4 mata kuliah. Itulah enaknya jadi mahasiswa tingkat akhir. Namun, dibalik keringanan itu terdapat beban yang dipikul, terasa berat sekali. Tagihan skripsi.

Sampai tulisan ini diketik pun, belum sejengkal pun gue nemuin dosen pembimbing. Padahal, dosen pembimbing telah ditentukan sejak awal semester ganjil ini. Sudah lama, dan gue masih "diam di tempat". Sungguh alasan yang tidak bijak sekali bukan kalau gue bilang "gak ada waktu"?

Setelah nyesek pas bangun tidur, gue juga jadi nyesek kalau lihat foto orang tua, inget orang tua, dan hal-hal yang berhubungan dengan orang tua. Terasa dikejar-kejar karena utang. Emang bener sih, utang kewajiban. Toh, gue juga udah ambil skripsi dari semester 7 ini sih. Gue jadi super sensitif melebihi merek tespack.

Gue jadi inget kejadian sekitar 2 minggu yang lalu. Hari itu, akhir bulan, gue lupa tanggal berapa. Duit gue di ATM limit, di ambang batas sewajarnyalah, meski bisa dikatakan itu masih cukup. Tapi tetep aja hati gue gak tenang. Jadi, malam itu gue kode ke bapak gue. Gue sms pake salam yang sopan, nanya kabar. Terus laporan keuangan deh. Beberapa hari kemudian, gak ada respon. Ah, kode gue gak kebaca atau bapak gue yang lupa? Sampai akhirnya gue WA si teteh, nyuruh bapak baca kode gue. Sehabis isya, ternyata bapak langsung ngirim. Dasar pikun. Gue selalu lupa untuk sms bapak untuk bilang "terima kasih" atau karena gue anak yang gak tau terima kasih? Oh :( tidaaaaaaaak. 

Sebuah percakapan terselip di sela-sela telponan dengan bapak.
Bapak: "dek, gimana? udah mulai?"
gue: "hah? apa? oh, masih di judul."
Bapak: "masih dijudul aja dari dulu? kapan penelitiannya?"
gue: "eum, ade masih harus nyari referensinya dulu. cari teorinya gitu, pak."

Lihat! Apa yang bisa gue lakukan? Gue cuma bisa ngeles. Ini sungguh beban mental. Bagaimana tidak? Gue tau, secara gak langsung gue sedang dibandingkan dengan si teteh yang bulan Desember udah kelar, Januari sidang, Juli wisuda (gak kebagian kursi yang gelombang sebelumnya). Iya, harusnya gue emang lebih memerhatikan tentang hal ini. 

JADI, SELAMA INI LO NGAPAIN AJA DI WAKTU SENGGANG?

Jawaban absurd akan gue lontarkan. Gue nonton film dan drama korea. Daebak~ 
Waktu gue terbuang percuma selama berjam-jam. Kerjaan gue ya cuma nonton, makan, main, kuliah aja cuma 4 kali doang, pacaran, dan hal-hal yang gak berguna lainnya. Gue tau, gue sedang membangun habbit yang buruk. Maka, ketika mulai disinggung-singgung oleh dosen, gue mulai berpikir. Gue gak bisa kayak gini terus. Mahasiswa tingkat akhir memang banyak cobaannya. Dan yang paling tidak mengenakkan adalah boros. Maka, sekarang gue lagi memprogram hidup gue agar tidak boros. Harus pandai memilah dan menabung. Membeli barang yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Okesip.

Dan sebenernya alasan kesensitifan gue selama ini, terletak pada itu. Beban skripsi. Susah memang untuk mengawali suatu hal semacam itu. Tapi, gue harus! Gue butuh dukungan. Bukan dukungan untuk tetap menunda, tapi dukungan untuk melangkah. Jangan mentang-mentang dosen pembimbing pernah ngasih nilai C ke gue, dan gue jadi diem di tempat. Ah, hal ini tak boleh dibiarkan. 

SEMANGAAAAAAAAAAT PIT!!!!
uyeeaaaaaaaaaaaaaaaaah~

Monday, November 11, 2013

Sebuah Awal Cerita

 

Dear Mr. Rasional…

Apa kabarmu hari ini?
Tak apa kan bila kupanggil kau dengan Mr. Rasional? Atau harus kuganti dengan Lelaki Penyabar Ciangsana?

Lelaki chubby itu kutemui kali pertama di sebuah acara kopdar. Ya, kopi darat, pertemuan antar manusia maya di dunia nyata. Kopdar salah satu komunitas blog, tentu saja hanya regional Jogja. Bila kau bertanya padaku bagaimana perasaanku padanya pada saat itu? Biasa saja. Tak ada yang menarik. Lelaki yang bawel, garing, ceria, dan hitam manis. Hari itu kau cenderung cuek seolah kutak ada, kecuali pada saat makan. Itupun karena kita sama-sama tidak mengetahui topik yang seringkali dilempar teman-teman. Satu hal baru yang kutau setelah makan tentang kamu, gombal.
“Neng, helm kita samaan nih mereknya. Jodoh kali ya.”
Aku hanya diam. Menyunggingkan senyum setengah kepaksa. Pada dasarnya, aku memang tak suka cowok gombal. Terlalu banyak tipu muslihatnya. “Modus banget”, kalau kata anak gaul zaman sekarang.

Entah malam keberapa setelah kopdar, akhirnya aku mendengarkan kamu on air. Padahal aku jarang sekali mendengarkan radio streaming, internet gak bersahabat. Oya, ngomong-ngomong soal on-air. Seenarnya, kau telah mencuri perhatianku sejak “makanan zaman kecil” menjadi topikmu di acara SIDOEL. Tapi aku tak pernah mengetahui kalau itu kamu. Sampai akhirnya aku kepo, tentu tidak kepo yang mendalam, kamu jangan ge-er.

Beberapa minggu kemudian, entah kerasukan roh apa, kamu mulai mention-mention, tag nama aku di komentar grup di pembicaraan random. Sebagai cewek, aku tentu saja dapat membaca gerak-gerik itu. Aku hafal apa yang sedang kamu lakukan. Mencuri perhatianku.

Tak cukup di sosial media. Pada suatu malam minggu, kamu mengajakku keluar. Aku pikir itu hanya main-main. Lalu kamu memintaku untuk sms kamu. Aku mengikuti saja alur berpikirmu, sampai akhirnya kamu meminta maaf karena motormu sedang dipakai oleh teman. Sedikit kecewa. Yah, aku terkena php. Siapa yang mengajak, siapa yang membatalkan. Kamu.

Kali kedua bertemu secara langsung, aku tak merasakan apapun. Masih biasa saja meski aku tau kamu masih saja mencoba mencuri perhatianku. Lalu, kamu meminta maaf atas kejadian php yang hampir kulupakan itu. Pertemuan yang tak begitu bermakna dalam.

Selanjutnya, kita lebih sering mention. beberapa kali kamu mengajakku keluar, tapi beberapa kali pula aku menolaknya. Bukan karena aku tak mau, tapi terkadang waktu memang tak bersahabat. Sampai akhirnya, suatu malam aku sangat kelaparan. Kamu yang masih dalam rangka mencuri perhatian, secara sedikit memaksa untuk mengantar makanan ke kos, tengah malam, pukul setengah satu. Wajahmu yang ceria malam itu, masih kurekam. Terima kasih untuk kepedulianmu, Mr. Rasional.


Bersambung...

Sunday, October 6, 2013

Ciyeeeee salah Orang ya? Malu Tuuuh~

Kyaaaaaaaaaaaaa 
yow yow yow, whats up yow?

Sudah lama sekali tidak menggunakan bahasa bebas lagi. Ini postingan selingan diantara jurnal-jurnal refleksi selama gue mengajar kemarin.

Pernah gak sih kalian salah orang? Kapan? Dimana? Siapa korbannya? Kenapa bisa salah orang? Bagimana ceritanya? Ciaelah adiksimba (5W + 1H).

Entah kenapa beberapa hari ini sering banget kejadian salah orang. Memang bukan gue pelakunya. Tetapi temen-temen gue dan gue pernah jadi salah satu orang yang jadi korban. Oke, karena gue menyukai sesuatu yang kronologi. Maka, gue akan menceritakan mulai dari hari yang paling awal dulu.

Wednesday, October 2, 2013

Mereka 'anteng' meski hanya 20 menit

KELAS 8C, TANGGAL 28 AGUSTUS 2013
Pertemuan keenam di kelas 8C diisi dengan materi baru. Sama halnya dengan kelas 8A pada hari senin, saya akan mengajar keterampilan berbicara, berwawancara. Kemarin, saya diberi masukan oleh guru pembimbing untuk menggunakan video untuk memberikan contoh berwawancara. Maka kemarin, saya mencari sebuah video wawancara di youtube dan mengunduhnya. Metode yang akan digunakan pada dasarnya sama saja, namun ada beberapa tambahan materi untuk kelas 8C.

Sebelum masuk di kelas 8C (jam pelajaran ke-6 dan 7), saya masuk 8A (jam pelajaran ke-5). Suasana yang berbeda selalu saya rasakan di kelas ‘super’ tersebut. Saya masuk kelas pada jam istirahat, karena harus mempersiapkan LCD terlebih dahulu. Saya tidak ingin masalah teknis akan mengurangi jam mengajar saya. Meskipun konsekuensinya perut saya meraung meminta diisi.

Pada bagain apersepsi, siswa mulai anteng, tumben sekali. Lalu, saya mengatakan pada mereka untuk tidak mencatat ketika saya sedang menjelaskan, karena nanti akan saya membagikan print-out materi pada mereka. Ya, saya sering sebal ketika saya menjelaskan, tetapi siswa sibuk dengan mencatat. Selain itu, memberikan print out materi merupakan hal penting untuk memenuhi jam mengajar yang efektif dan kondusif. Siswa mulai terdiam selama saya menjelaskan, dan hal tersebut terjadi untuk pertama kalinya. Saya merasa dihargai. Saya merasa bahagia yang tidak jelas meskipun hanya 20 menit.

Tiba saatnya pembagian kelompok, saya meminta siswa untuk berkelompok sebanyak 4 orang. Mereka protes karena jumlah siswa adalah 35 orang. Memang seharusnya dibagi 7 kelompok, tetapi guru pembimbing menyarankan 4 orang. Saya pikir juga hal tersebut akan efektif. Tetapi pada kenyataannya, siswa kelas 8C sulit sekali diatur. Ego mereka tinggi sekali. Sekitar 10 menit dihabiskan hanya untuk membagi kelompok. Pada dasarnya bisa saja membagi lebih cepat, yakni saya yang membagi sesuai urut absen. Tetapi, pastilah akan mendapat protes besar-besaran dari siswa. Di dalam kelas tersebut, ada sebuah gank yang terdiri atas 6 orang perempuan, mereka sulit sekali diatur. Mereka menspesialkan diri mereka, tidak ingin berbaur dengan siswa lain. Maka ketika harus berkelompok sebanyak 4 siswa, mereka memilih 3 orang saja, agar mereka bisa berpisah secara adil.  Akhirnya saya mengatakan pada siswa laki-laki yang belum mendapat kelompok, “karena siswa yang putri sulit diatur, saya meminta pengertian pada yang putra untuk segera bergabung. Oke, tidak apa-apa apabila harus berlima.” Saya merasa kalah dengan siswa. Disinilah kegalauan saya sering muncul, antara menuruti ego siswa atau sesuai dengan RPP tapi pembelajaran kurang kondusif.

Pada akhir pembelajaran, untuk pertama kalinya saya menggunakan pos komentar seperti pada mengajar mikro di kampus. Siswa senang sekali mendapat kertas seperti itu. Lantas beberapa menit kemudian mereka mengumpulkannya lagi kepada saya. Secara keseluruhan, mereka menuliskan bahwa hari ini menyenangkan, meski saya sedikit galak. Memang terkadang galak dan tegas itu beti, beda tipis.

Pelajaran yang dapat saya ambil hari ini tentang pembagian kelompok adalah mereka memilih sendiri kelompoknya, tetapi dengan sebuah aturan. Mungkin akan lebih baik dengan cara diundi nomor urut kelompok, meski konsekuensinya hal tersebut akan memakan waktu yang lebih lama.