entah sampai kapan lagu-lagu ini akan terus mengalun ,lagu indah yang diciptakan Tuhan melalui tangan dan pikiran kreatif makhluk sempurna yang disebut manusia. lagu tentang malaikat yang dikirim Tuhan untuk melindungi dan menyayangi putra dan putri di dunia ini.
malaikat yang diberikan sebuah panggilan IBU . sekarang aku lagi kangen banget sama IBU , meski aku tau sebentar lagi aku akan pulang dan bertemu beliau . lagu yang kudengar malam ini hanya secuil bongkahan emosiku. mungkin kini aku sudah penat dengan kejenuhan yang over load .
kadang aku merasa iri pada mereka yang setiap hari atau setiap minggu bisa bertemu ibu mereka , kepada mereka yang setiap berangkat kuliah dapat mencium tangan ibu atau sekedar berpamitan . tapi aku selalu menghujam pada batin nakalku , bahwa ini bagian dari perjalanan yang telah aku pilih .
suatu hari saat aku mengadu lewat telpon mengenai jarak , ibu mengatakan "berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian" . sungguh kalimat klasik . tapi jika kamu dengar dari seseorang yang berarti dan begitu menyayangimu ,makna itu akan sangat berbeda . itu bagaikan sebuah suntikan vitamin . tekad dan semangat itu selalu ada kala aku jatuh . aku selalu mengingat kalimat itu agar aku tak mengeluh lagi . meski rasanya sulit .
diatas langit ,masih ada langit . meski aku tak berjumpa dengan ibu hanya dalam hitungan bulan , masih ada yang tak bertemu ibunya hampir setaun sudah ,mungkin lebih . ketika ku tanyakan padanya "apakah kamu sedih?" ia selalu menjawab dengan senyuman seraya berkata "sudah biasa" . dalam hati aku kagum , dia begitu tegar dan gak cengeng kayak aku . tapi aku tahu bahwa dia sangat sayang pada ibunya dan dia selalu yakin bahwa ibunya mencintainya dengan cara yang berbeda ,cara yang spesial yang hanya khusus diberikan pada anak tunggalnya .
seuntai kata ,serangkai kalimat ,seruntun wacana tak cukup untuk mengurai apa yang telah IBU berikan padaku . masakan ibu yang selalu lezat dilidahku ,meski aku tak pernah memuji masakan beliau secara langsung . panggilanmu kala subuh memanggil untuk menjalankan perintah-Nya . aku kenang itu semua dalam hati ini , IBU .
aku sayang IBU ..
Search Upil on This Blog
Monday, January 24, 2011
Thursday, December 2, 2010
itu DULU !!
terukir jelas jejak celotehnya
kala senda gurau bergeriliya
menjamah ukiran kalbu yang terkoyak
kau tancapkan pandangannya padaku
teduh, nyaman dan menusuk
terpatri senyum dalam buaian kasih
senyum itu yang menggerayangi matahari dan bulanku
aku jatuh berdebam dalam cakrawala hatinya
yang dulu selalu aku hitung gemericik tetesnya
tertuju padaku
DULU !!
kala senda gurau bergeriliya
menjamah ukiran kalbu yang terkoyak
kau tancapkan pandangannya padaku
teduh, nyaman dan menusuk
terpatri senyum dalam buaian kasih
senyum itu yang menggerayangi matahari dan bulanku
aku jatuh berdebam dalam cakrawala hatinya
yang dulu selalu aku hitung gemericik tetesnya
tertuju padaku
DULU !!
misteriku
dalam heningku
jiwa ini membisu
dalam heningku
raga ini tetap membeku
terdiam dan terpaku
kala tawamu tak lagi terdengar
kala senyumanmu tak lagi tampak
ketika langkahmu tak lagi berpijak
ketika matamu tak lagi terbuka
kemana aku harus bertanya?
kemana ku cari jawab?
KEMANA?
kenyataan menampar khayalan
ku lihat dirimu disana
tak bernyawa lagi
jiwa ini membisu
dalam heningku
raga ini tetap membeku
terdiam dan terpaku
kala tawamu tak lagi terdengar
kala senyumanmu tak lagi tampak
ketika langkahmu tak lagi berpijak
ketika matamu tak lagi terbuka
kemana aku harus bertanya?
kemana ku cari jawab?
KEMANA?
kenyataan menampar khayalan
ku lihat dirimu disana
tak bernyawa lagi
Sunday, November 21, 2010
fakta klise
aku berdiri tanpa topangan, tanpa pijakan dan tanpa tujuan. untuk sekarang ini hanya itu yang dapat aku deskripsikan tentang bagaimana aku. hidup adalah proses dan proses itu membutuhkan waktu yang tak singkat. terkadang aku jatuh, aku merasa sendiri dan tersudut untuk sebuah alasan yang tidak aku mengerti. Ya, hanya menjadi sebuah mozaik misteri. ketika aku mulai menyelami dunia baru, aku bingung. ada banyak rintangan yang menantangku, ada banyak hal yang belum ku ketahui. kemana harus ku melangkah? DEPAN. Ya, memang ke depan, tapi apa yang harus aku lakukan? bagaimana jika aku tersandung atau bahkan tersesat?an
aku ingat, aku tidak sendiri, masih ada ALLAH yang selalu menjagaku. aku sadar itu, dan ada doa orang tuaku yang selalu mengiri setiap jejak langkahku dan ada teman-temanku yang senantiasa menggenggam erat tanganku dan memegang pundakku saat aku terpuruk.
mungkin satu-satunya hal yang membuat aku tegak adalah sebuah catatan dari secarik kertas putih yang diatasnya tertoreh tulisan yang membuatku tenang, membuat rasa rindu ini menggebu, tulisan yang sudah tak asing lagi sejak aku kecil, tulisan yang selalu aku kagumi dengan caraku. ya, itu tulisan ibuku yang mencoba memberikan semangat pada anak keduanya. aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu, IBU juga seluruh keluargaku. karna aku sayang kalian.
melow, tanpa arah, jatuh, bangkit, sebuah fakta klise yang kian menghampiri dan hinggap hampir disetiap waktu yang aku telan selama hidupku. namun aku akan buktikan pada 'malampir' bahwa aku bisa lebih dari dia, suatu saat.
aku ingat, aku tidak sendiri, masih ada ALLAH yang selalu menjagaku. aku sadar itu, dan ada doa orang tuaku yang selalu mengiri setiap jejak langkahku dan ada teman-temanku yang senantiasa menggenggam erat tanganku dan memegang pundakku saat aku terpuruk.
mungkin satu-satunya hal yang membuat aku tegak adalah sebuah catatan dari secarik kertas putih yang diatasnya tertoreh tulisan yang membuatku tenang, membuat rasa rindu ini menggebu, tulisan yang sudah tak asing lagi sejak aku kecil, tulisan yang selalu aku kagumi dengan caraku. ya, itu tulisan ibuku yang mencoba memberikan semangat pada anak keduanya. aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu, IBU juga seluruh keluargaku. karna aku sayang kalian.
melow, tanpa arah, jatuh, bangkit, sebuah fakta klise yang kian menghampiri dan hinggap hampir disetiap waktu yang aku telan selama hidupku. namun aku akan buktikan pada 'malampir' bahwa aku bisa lebih dari dia, suatu saat.
Label UPIL:
Cuap-cuap
Wednesday, September 1, 2010
UPDATE Lagiiiii .... !!!!
Lamaaaaaa banget gak update blog lagi, kangen juga. Udah lama gak tulis tulis disini. Hmhm, kali ini aku pengen cerita tentang kisah mandiriku, ini aku tulis supaya nanti aku gak lupa. He he , suka jadi pikun juga sama pengalaman sendiri. Kali ini subjeknya udah diganti, bukan lagi GUE tapi AKU. Karena kalau di Jawa or Jogja tuh pakenya aku-kamu, bukan gue-lu. Meski rada geli juga kalau denger cowok bilang aku-kamu ke temen cowoknya. Hi hi hi
Hari itu, tepat tanggal 25 aku menapakkan kakiku di kota pelajar (lagi) bersama keluarga tercintaku. sewaktu masih di rumah ingin segera aku pergi kesana, karna aku sudah penat dengan kehidupan di tempat kelahiranku yang hanya itu itu saja. Tapi saat sampai disana agak terasa asing juga, meski aku sudah pernah tinggal disana selama 10 hari. Disana aku hanya mengenal satu orang temen yang notabenenya temen kost yang selama 10 hari hidup bareng karena kita satu kamar. Sebut saja DWI, (emang namanya Dwi sih, he he). Dia di Jogja lebih awal beberapa hari daripada aku, karena dia ada TM buat OSPEK.
Huuuh, perjalanan yang memakan berbelas-belas jam membuatku terpikat untuk segera menghempaskan tubuh ini ke kasur (gak) empuk.Tapi, kenyataan berkata lain, hari itu aku hijrah kamar kost dari nomor 6A ke 3A, karena 6A sekarang telah resmi jadi milik Dwi (tapi bukan berarti aku diusir Dwi lho!!). Pokoknya pikiranku yang pengen tidur enak tadi itu buyar seketika, karena harus benahin kamar yang masya allah-naudzubillahi min dzalik kotor buangeet. Huft!! Aku kira udah dibersihin, jadi aku gak perlu kerja ekstra gitu. Akh, sempet ragu juga kalau aku bakal betah stay di kamar itu, soalnya mojok dan kurang terjamah serta deket jalanan yang kadang berisik. Tapi ada bisikan dari arah kanan tubuhku “Syukuri aja viet”. Right, beresin kamar dibantu parents juga. Pas dzuhur udah beres, aku udah mandi dan siap tidur. Eh, gak bisa tidur juga, alhasil maen deh ke (mantan) kamarku alias kamarnya Dwi.
Sore hari tiba, inilah saat-saat yang paling berat banget yang pernah aku alami selama 17 tahun ini. Orang tuaku harus pulang lagi ke rumah, sediiiiiiiiiiihhh banget. Ibu aja sampe mau nangis. Aduh, trenyuh banget, secuek-ceuknya diriku ini, paling gak bisa lihat ibu nangis gitu. Tapi, aku coba sok tegar dan dewasa, berusaha meyakinkan beliau lewat sikapku yang terkesan dipakasakan ‘aku gak boleh nangis dan cengeng’. Right, BERHASIL !! Aku gak nangis tuh sampe mobil mereka hilang dari pandangan mataku. Akhirnya, balik ke kamar dan akhirnya, nangis juga, (tapi dikit kok, suerr deh). Dalam fikiranku saat itu, ‘apa aku bisa bertahan disini? Berapa lama? Satu detik? Satu menit? Satu jam? Satu hari? Satu minggu? Atau satu bulan? Gimana ntar pas puasa? Siapa yang bangunin? Aku bisa bangun pagi tanpa kelewat shalat subuh gak?'. Aku telan lagi semua pertanyaanku dan aku jawab dalam hari dengan segenap keyakinan ‘AKU BISA dan HARUS BISA’. Yeaaah, lumayan juga, cukup membantu menumbuhkan benih semangat untuk hidup mandiri dan konsisten menerima konsekuensi yang udah diambil. Dan mungkin karena efek kecapean itu, akhirnya aku bisa tertidur pulas malam itu, kenyataan pun telah membuktikan bahwa aku mampu bertahan hidup mandiri selama satu bulan. Alhamdulillah
Hari itu, tepat tanggal 25 aku menapakkan kakiku di kota pelajar (lagi) bersama keluarga tercintaku. sewaktu masih di rumah ingin segera aku pergi kesana, karna aku sudah penat dengan kehidupan di tempat kelahiranku yang hanya itu itu saja. Tapi saat sampai disana agak terasa asing juga, meski aku sudah pernah tinggal disana selama 10 hari. Disana aku hanya mengenal satu orang temen yang notabenenya temen kost yang selama 10 hari hidup bareng karena kita satu kamar. Sebut saja DWI, (emang namanya Dwi sih, he he). Dia di Jogja lebih awal beberapa hari daripada aku, karena dia ada TM buat OSPEK.
Huuuh, perjalanan yang memakan berbelas-belas jam membuatku terpikat untuk segera menghempaskan tubuh ini ke kasur (gak) empuk.Tapi, kenyataan berkata lain, hari itu aku hijrah kamar kost dari nomor 6A ke 3A, karena 6A sekarang telah resmi jadi milik Dwi (tapi bukan berarti aku diusir Dwi lho!!). Pokoknya pikiranku yang pengen tidur enak tadi itu buyar seketika, karena harus benahin kamar yang masya allah-naudzubillahi min dzalik kotor buangeet. Huft!! Aku kira udah dibersihin, jadi aku gak perlu kerja ekstra gitu. Akh, sempet ragu juga kalau aku bakal betah stay di kamar itu, soalnya mojok dan kurang terjamah serta deket jalanan yang kadang berisik. Tapi ada bisikan dari arah kanan tubuhku “Syukuri aja viet”. Right, beresin kamar dibantu parents juga. Pas dzuhur udah beres, aku udah mandi dan siap tidur. Eh, gak bisa tidur juga, alhasil maen deh ke (mantan) kamarku alias kamarnya Dwi.
Sore hari tiba, inilah saat-saat yang paling berat banget yang pernah aku alami selama 17 tahun ini. Orang tuaku harus pulang lagi ke rumah, sediiiiiiiiiiihhh banget. Ibu aja sampe mau nangis. Aduh, trenyuh banget, secuek-ceuknya diriku ini, paling gak bisa lihat ibu nangis gitu. Tapi, aku coba sok tegar dan dewasa, berusaha meyakinkan beliau lewat sikapku yang terkesan dipakasakan ‘aku gak boleh nangis dan cengeng’. Right, BERHASIL !! Aku gak nangis tuh sampe mobil mereka hilang dari pandangan mataku. Akhirnya, balik ke kamar dan akhirnya, nangis juga, (tapi dikit kok, suerr deh). Dalam fikiranku saat itu, ‘apa aku bisa bertahan disini? Berapa lama? Satu detik? Satu menit? Satu jam? Satu hari? Satu minggu? Atau satu bulan? Gimana ntar pas puasa? Siapa yang bangunin? Aku bisa bangun pagi tanpa kelewat shalat subuh gak?'. Aku telan lagi semua pertanyaanku dan aku jawab dalam hari dengan segenap keyakinan ‘AKU BISA dan HARUS BISA’. Yeaaah, lumayan juga, cukup membantu menumbuhkan benih semangat untuk hidup mandiri dan konsisten menerima konsekuensi yang udah diambil. Dan mungkin karena efek kecapean itu, akhirnya aku bisa tertidur pulas malam itu, kenyataan pun telah membuktikan bahwa aku mampu bertahan hidup mandiri selama satu bulan. Alhamdulillah
Label UPIL:
Cuap-cuap
Tuesday, July 13, 2010
Thanks, Bagas .. !!
Pagi itu aku terbangunkan oleh sinar mentari yang masuk lewat jendela disebelah Timur kamarku sehingga terpantulkan cermin tepat ke arah wajahku yang tertutup selimut. Cahayanya begitu menyilaukan. Hari ini menjanjikan sebuah kecerahan, mungkin ini gantinya hari kemarin yang hujan. Aku menarik kasar handuk yang dikaitkan di belakang pintu dan melingkarkannya di leher. Tak lupa satu setel pakaian bersih pun aku ambil dari lemari.
“Ternyata kau ingat bangun juga?” Sindir Bagas yang dengan santainya duduk didepan TV dan memainkan remote mencari channel. Perkataannya membuatku tak nyaman. Lagipula ini aneh, tak seperti biasanya ia kemari sepagi ini.Wednesday, May 26, 2010
Perjalanan
Suer deh, gak ada niatan untuk nyamain judul album keduanya d’Masiv, tapi sekarang gue emang lagi pengen nulis kronologi perjalanan gue selama tiga hari hampir tiga malem kemaren. Kemanakah gue? Simak aja, guys! Enjoy it!
But, sebelum gue cerita tentang perjalanannya. Ada baiknya gue flashback dulu latar belakang gue melakukan perjalanan ini.
Semuanya bermula ketika di pertengahan bulan Februari kemaren ada undangan PMDK ke sekolah gue (SMANJAS) dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Karena siswa yang daftar itu dibatasi—cuma 5 orang— maka gue mencoba memberanikan diri untuk ikutan. Seperti keinginan gue sebelumnya, gue pengen jadi penulis yang mencintai negaranya, maka gue pilih jurusan sastra Indonesia. Tapi, setelah gue fikir-fikir dan konsultasi sama banyak pihak, penulis doang gak cukup untuk menopang masa depan gue. Maka dari itu gue pilih yang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
But, sebelum gue cerita tentang perjalanannya. Ada baiknya gue flashback dulu latar belakang gue melakukan perjalanan ini.
Semuanya bermula ketika di pertengahan bulan Februari kemaren ada undangan PMDK ke sekolah gue (SMANJAS) dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Karena siswa yang daftar itu dibatasi—cuma 5 orang— maka gue mencoba memberanikan diri untuk ikutan. Seperti keinginan gue sebelumnya, gue pengen jadi penulis yang mencintai negaranya, maka gue pilih jurusan sastra Indonesia. Tapi, setelah gue fikir-fikir dan konsultasi sama banyak pihak, penulis doang gak cukup untuk menopang masa depan gue. Maka dari itu gue pilih yang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Label UPIL:
Cuap-cuap
Subscribe to:
Posts (Atom)
