Pages

Search Upil on This Blog

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software
Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

Monday, March 31, 2014

Sang Gadis dan Lelaki Itu: "Memulai itu lebih mudah daripada mengakhiri."

"Memulai itu lebih mudah daripada mengakhiri."

Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga sang gadis. Ia memikirkan betapa sulitnya untuk mengambil keputusan. Hubungan yang tidak sehat itu, apakah masih bisa diobati atau harus dilepaskan begitu saja. Setiap langkah memang memiliki konsekuensi, dan tidak setiap orang siap menanggung konsekuensi itu. Obat pahit bernama kenyataan itu memang susah bila harus ditelan tanpa air, tapi akan lebih susah apabila harus dikunyah lebih dulu, lebih pahit.

Apa yang harus dipertahankan? Apa yang harus dipertimbangkan? Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai?
Begitu banyak hal yang sang gadis pikirkan, memang tipe orang yang takut sebelum terjadi.

* * *

Dunia teknologi sangat sedih apabila kecanggihannya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh manusia. Dewasa ini telah muncul banyak sosial media, aplikasi-aplikasi canggih di dalam smartphone dan tentu saja ditujukan untuk pengguna yang 'smart'. Tujuannya adalah untuk komunikasi. Iya, manusia telah dimanjakan dengan kemudahan berkomunikasi. Lantas, bagaimana bisa menjadi alasan renggangnya hubungan dua orang yang hanya berpisah secara raga? Masuk akal? Logis? Sepertinya tidak.

Sang gadis memikirkan itu, memikirkan bahwa alasan kerenggangan hubungannya dengan lelaki itu karena satu hal, komunikasi. Jarak memang memisahkan raga, tapi komunikasi adalah satu-satunya cara untuk menyatukan hati. Konsekuensi dari sebuah jarak adalah kangen, tentu saja. Tapi, bukankah kecanggihan teknologi sudah mengatasinya? Kangen ya tinggal sms, DM, message, chatting. Kangen suara, ya tinggal telpon. Kangen melihat satu sama lain tapi gak bisa ketemu, ya tinggal skype. Tidak bisa semua? Tidak mungkin. Bisa, tapi usaha yang tidak ada.

Entah apa yang menjadi alasan sebenarnya, sang gadis tak pernah mengetahuinya. Sampai ketika ia kembali bertemu lelaki itu, satu bulan kemudian. Mungkin inilah pola pikir yang berbeda antara sang gadis dan lelaki itu. Sang gadis, bisa saja menghindari lelaki itu, bersikap cuek atau dingin. Tapi itu akan berlangsung selama beberapa jam atau mungkin tiga hari, paling lama. Namun, ketika lelaki itu menghindari sang gadis, bersikap cuek atau dingin, itu akan memakan waktu yang lebih lama. Sepuluh hari, bukanlah waktu yang sebentar bagi sang gadis. Lantas apa yang dilakukan lelaki itu? Tentu saja berkumpul bersama teman-temannya. Mungkin memang benar, perempuan itu memiliki perasaan yang jauh lebih sensitif. Sang gadis merasa tidak dipedulikan, disamarkan, dan dianggap tidak ada.

Sang gadis dan lelaki itu memperdebatkan persoalan yang sepele. "Aku kan hubungi kamu duluan pas hari anu." atau  "Aku telponin kamu berulang kali, tapi kamu sama sekali gak mencoba telpon aku.". Lucu memang. Segala sesuatu yang sepele bisa menjadi besar, bisa menjadi runyam, dan lebih membuat emosional bila berbentur ego. Sang gadis tidak mau kalah, lelaki itu jauh tidak ingin mengalah (lagi).

* * *

"Aku capek untuk menghadapi sikap kamu yang seperti ini. Tega banget sih jadi cowok."
"Kamu itu, kalau tidak tahan dengan aku, yaudah bilang. Nggak usah nunggu aku yang bilang duluan, kenapa sih?"
"Yaudah, kalau gitu. Kita putus."
"Oke. Semoga kamu dapet cowok yang lebih perhatian, lebih sayang dan lebih peduli."
"Amin. Semoga aku cewek terakhir yang kamu gantungin."
"Amin."

PUTUS.
Semudah itukah? Semudah membalikkan telapak tangan? Begitulah apabila emosi sudah menguasai otak. Namun, apakah kejadian yang dulu akan terulang? Rasa sesal itu akan menghampiri sang gadis lagi? Tentu saja tidak. Bagi sang gadis, berpisah karena disakiti jauh lebih cepat sembuh dari luka daripada berpisah secara baik-baik. 

Ah, ternyata mengakhiri memang tidak semudah memulai. Tapi, bagi sang gadis, ini justru awal untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Ini hanya soal pola pikir.


Friday, February 21, 2014

Gadis Itu dan Sang Lelaki: sebuah perpisahan(?)

“Kamu tahu gak kalau orang kecelakaan itu sakitnya bukan beberapa saat atau beberapa jam setelah kecelakaan, tetapi keesokan harinya?”

Gadis itu menyentuh tombol back, sms tersimpan sebagai draft. Kini ia dalam keadaan sadar, fisiknya. Tetapi, pikirannya? Masih belum sadar sepenuhnya. 

*  *  *

Beberapa jam yang lalu, gadis itu baru saja menemui kekasihnya. Mereka berpacaran baru seumur jagung, baru 6 bulan, ia baru move on dari mantannya semenjak dengan pacarnya itu, dan pacarnya baru sadar bahwa ia tidak terlalu mengenal apa-apa tntang gadis itu bahkan setelah 6 bulan itu, semuanya berbau ‘baru’. Baru dan baru.

Mengapa mereka bertemu? Tentu saja karena ada sesuatu hal yang perlu diluruskan, diselesaikan, dan dibicarakan, bukan sekedar ditulis di chat whatsapp atau bbm atau DM. Sudah 6 hari sang lelaki tidak memberikan kabar sepatah kata pun kepada gadis itu. Ia gusar, apapun yang dilakukan, percuma. Konsentrasi selalu buyar, tak ada lagi suasana fokus ketika membaca buku atau menulis bahan untuk blog. Ia ingin sekali menemui lelaki itu, secepatnya. Ia bukan tipe orang yang ingin menunda masalah, tetapi apa daya sang lelaki tipe orang yang senang menunda masalah. Entah karena tidak ingin menyelesaikan hari itu karena takut terbawa emosi atau karena memang menenangkan pikirannya dulu atau sengaja menghindar.

Sore itu, di sebuah taman. Gadis itu ingat betul, sang lelaki datang dalam keadaan yang 'enggak banget'. Rambut gondrong tak rapi, muka lecek bukan lagi seperti baju belum disetrika, tetapi lebih tepat seperti baju kotor yang ditumpuk di cucian kotor, dan tentu saja bau rokok yang melekat erat di jaket jeans yang dulu dibeli sebelum pergi ke pantai bersamanya. Tampaknya selama masa 'hilang komunikasi', sang lelaki tak pernah mandi, hanya mencuci muka ala kadarnya. Lengkap sudah kekesalan dalam hati gadis itu. Benar-benar tak seperti yang ia harapkan. Sudah berulang kali ia mengatakan kepada sang lelaki untuk mencukur rambutnya, karena memang kenyataannya sang lelaki terlihat lebih tampan dengan rambut rapi, tak seperti saat itu. Rambut rapi yang membuatnya seperti merasakan jatuh cinta lagi.

Andai sang lelaki memahami itu lebih cepat, andai sang lelaki tidak lamban dalam menangkap kode itu, dan andai lelaki itu bisa memegang serta mempertanggungjawabkan setiap penggalan kata-kata yang diucapkannya. Dan ternyata gadis itu hanya bisa berandai-andai, bahkan ketika sebuah penyesalan yang menjadi penyelesaian masalah sepele itu. PUTUS. Kemudian percakapan ‘seolah baik-baik saja’ itu pun terjadi.

“Bolehkah aku tetap memanggilmu dengan sebuatan sayangku seperti biasanya?”
“Tentu saja, itu terserah kamu. Tapi, aku tidak akan melakukannya lagi.” 
“Bolehkan aku main ke rumahmu?”
“Tentu saja, selama aku ada di rumah dan belum pindah rumah.”
“Bolehkah jika suatu saat nanti aku mengajakmu makan bersama?”
“Tentu saja, selama aku ada waktu.”
“Pasti kamu tidak akan menyempatkannya.”
Gadis itu hanya tersenyum datar seolah berucap “who know?”.
"Dan bisakah kau menungguku selama 10 tahun? Aku akan datang untuk melamarmu. Tentu saja ketika aku sudah menjadi ‘orang’?"
“Jika kau datang 10 tahun lagi, mungkin aku sudah memiliki anak.”
“Baiklah, bagaimana dengan 5 tahun?”
“Mungkin aku sudah dilamar orang lain.”
Sang lelaki hanya terdiam, sedang gadis itu mulai beranjak meninggalkan sang lelaki yang mematung di bawah pohon di taman itu. Seperti awan yang terdiam menyaksikan matahari kembali ke peraduannya. Gadis itu memang tak pernah ingin lagi mendengarkan janji manis sang lelaki, cukup sudah hatinya hampir menderita diabetes (jika memang hati bisa mengidap diabetes). Bukan karena tidak pernah mempercayainya, tetapi percaya barang sekali atau dua kali sudah cukup bukan? Sudah cukup ketika dipatahkan kepercayaannya itu. Wanita mana yang ingin lelakinya terus mengulang kesalahan yang sama? Sepertinya hampir semua wanita akan berkata 'tidak ada'.

*  *  *

Hari pertama pasca berpisah. Semuanya terlihat baik-baik saja, gadis itu tetap bercanda tawa bersama teman-temannya. Hidupnya berjalan normal seperti sebelum sang lelaki itu hadir. Bahkan ia masih menikmati film-film yang berbau cinta tanpa merasakan sakitnya kenangan.

Hari kedua pasca berpisah. Gadis itu terus saja melirik chat whatsapp, apakah ada pesan dari sang lelaki, apakah sang lelaki itu online, atau apakah sang lelaki itu baik-baik saja? Hidupnya mulai sedikit gusar meski ia masih saja tetap bercanda tawa bersama teman-temannya. Canda tawa yang menyamarkan kesedihan. Kesedihan yang tak tertangkap oleh teman-temannya melalui mata sang gadis.

Hari ketiga pasca berpisah. Gadis itu makin sering melirik chat whatsapp, semakin sering mempertanyakan apakah ada pesan dari sang lelaki, apakah sang lelaki itu online, atau apakah sang lelaki itu baik-baik saja? Hidupnya benar-benar gusar, kesedihan yang ia samarkan sedikit terlihat oleh teman-temannya. Tetapi, ia masih menghindar dan tidak mengakui kesedihan itu. Ia memilih untuk memendam semuanya dalam peti bernama “rahasia hati perempuan”. Memutar lagu Big Big World milik Emilia, berulang-ulang, mencoba menegarkan hati. Ia juga ingin sekali ia mengirimkan lagu When You’re Gone milik Avril kepada sang lelaki. Tapi apa daya, gengsi gadis itu terlalu tinggi. Sampai akhirnya, bunyi notifikasi chat whatsapp terdengar dari handphone gadis itu, sang lelaki itu muncul. Tuhan Maha Mendengar, Tuhan Maha Baik, Tuhan memang tidak tidur, segala macam doa syukur dipanjatkan gadis itu.
“Belum tidur?”
“Belum bisa tidur.”
“Lagi ngapain?”
“Baca buku. Kamu?”
“Main gitar. Mau aku nyanyiin nggak supaya kamu bisa tidur?”
Ah tidak, itu kebiasaan lama mereka. “Boleh, tapi aku boleh request lagunya?”
“Boleh. Apa?”
“When You’re Gone dari Avril Lavigne.”
“Aku gak tahu lagunya. Hehe…”
Gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengirimkan lagunya.
 
Beberapa saat kemudian, sang lelaki itu mengetik“aku kangen kamu.”
Lama sekali gadis itu tidak membalas chat sang lelaki, ia berada diantara rasa senang dan rasa tidak percaya. "Apa yang harus aku lakukan?" Bagaimana mungkin rasa aneh ketika orang sedang pendekatan itu muncul kembali. "Aku harus membalas apa?" Gusar betul. Berkali-kali meremas boneka di tangannya lalu menatap cermin, memantapkan hati. Akhirnya,“Me too” adalah jawaban dari gadis itu. Ia mengalahkan rasa gengsinya. Sang lelaki telah meluluhlantahkan hati gadis itu. Hati yang kemarin penuh amarah, hati yang digantung selama 6 hari itu, buyar hanya sebuah kalimat ‘aku kangen kamu’. Ah sesederhana itukah? Atau memang selama ini gadis itu saja yang menyulitkan semuanya?

Hari keempat pasca berpisah. Gadis itu melirik chat whatsapp, lagi dan lagi. Tidak ada chat dari sang lelaki sejak pagi sampai jam makan malam. Ia mulai mengutuki dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu termakan harapan yang ia buat sendiri? Entah bisikan dari mana, malam itu juga, pukul 23.00, tanpa memikirkan rasa takut atau rasa cemas sebagai seorang gadis, gadis itu memutuskan untuk menemui sang lelaki.

“Aku di depan rumah kamu, aku mau ambil kacamataku dan uang nonton yang kamu pinjam. Tolong keluar ya.” Begitu bunyi pesan yang gadis itu kirim kepada sang lelaki. Ah, alibi.

Beberpaa saat kemudian, lelaki itu muncul. Sama seperti ketika ia melihat sang lelaki itu terakhir kali, tidak ada semangat hidup, rambutnya masih berantakan, tak terurus, seperti belum mandi beberapa hari, dan tentu saja masih menggunakan kaos oblong serta celana kolor bola Totenham Hotspur, klub bola favoritnya.

“Maaf, aku belum sempat ke tempatmu. Aku sakit selama beberapa hari.” Kalimat itu membuka percakapan malam itu. Sang lelaki memberikan kacamata dan uang kepada gadis itu.

“Yaudah, aku pulang ya.” Sang gadis tak kuasa menatap mata sang lelaki, ia masih mengenakan helm dan hampir menyalakan motornya.

“Eh tunggu dulu. Kamu enggak apa-apa kan?” Pertanyaan menohok. Lengan kanan gadis itu ditarik oleh sang lelaki. Sang lelaki ingin sekali menatap mata gadis itu.

Suara “sroot” dari hidung gadis itulah penyebab utama pertanyaan menohok itu muncul. “Enggak apa-apa, aku hanya sedang pilek.” Tangan kiri gadis itu mencoba melepaskan tangan sang lelaki dari lengan kanannya. 

“Tunggu dulu. Kamu beneran baik-baik saja? Baik-baik saja bagi perempuan, biasanya bermakna sebaliknya.”

Detik itu juga, hujan yang tak terbendung lagi keluar dari mata gadis itu. Bukan lagi menetes, tapi mengalir lancar tak tertahankan. Dan tebak apa yang sang lelaki itu lakukan? Tentu saja sang lelaki itu memeluk erat gadis itu. Sang lelaki tidak pernah tahan dengan tangisan gadis itu, ia berusaha menenangkan tangisan gadis itu.

Setelah tenang, akhirnya mereka berbicara dari hati ke hati. Membahas masalah yang sebenarnya sepele itu dan saling ingtrospeksi diri. Malam itu, ke-childish-an mereka terbayar sudah. BALIKAN.
sumber gambar

Apakah cerita ini selesai sampai di situ? Tentu saja tidak. Siapa yang memulai cerita, ia harus siap untuk mengakhiri cerita. Cerita ini masih pending, belum berakhir. Tidak ada cerita yang tidak memiliki akhir. Itu sudah menjadi takdir dan memang seharusnya seperti itu. Entah akhir yang bahagia atau sedih. Semua masih tanda tanya. 

Thursday, February 6, 2014

BERIKAN SATU SPASI!

Ia menatapku penuh angkuh, tajam.
Seirama detak waktu yang bergidik.
Nafas tersengal, aku kalah.
Bias rindu yang tak terlihat mendekap erat
tubuhnya dan tubuhku.
Masihkah harus kumengemis pada jarak?
Haruskah mengais harap penuh pada jarak?
Sayang, tidak inginkah kau saja yang meniti jejak?
Sedang aku mengintip dari tirai jendela
atau daun pintu seperti anak kecil yang menunggu.
Menunggu es nong-nong lewat dengan mata berbinar.
Mengulum senyum dan melihat jarak yang tak lagi semu.
Terkekang dalam jarak.
Tersungkur dalam jarak.
Tertimbun dalam jarak.
Jatuh berdebam dalam jarak.
Lantas mengangkat tangan pada Sang Maha.
Mengharap uluran jarak pada kaki
yang terlampau lelah tuk menyusuri batasnya.
Kutak ingin mati karena jarak.
Antara kau dan aku harus ada satu spasi.
Tak lebih, tak kurang. Itu cukup.
Ah omong kosong kehidupan macam apakah ini?
Lekas berikanlah satu spasi saja!
Jarak. Jarak. Jarak. Jarak. Jarak.
Ja-rak. Ja-rak. Ja-rak. Ja-rak. Ja-rak.
J-a-r-a-k. J-a-r-a-k. J-a-r-a-k. J-a-r-a-k. J-a-r-a-k. J-a-r-a-k.
J - a - r - a - k
JAHARA KAU!

Thursday, December 19, 2013

Kepada Sang Pemberi Harapan

Suatu hari yang cerah
Matahari tersenyum syahdu
Belaian angin meninabobokanku
Yang tersandar di bahumu yang kokoh
Kau raih gitar yang tergelatak
Di sebelah kaki berbulumu
Kau alunkan melodi-melodi merdu itu
Membuai telingaku dengan lagu Depapepe
Disela petikan gitar dan belai angin
Kau bercerita tentang waktu, tentang aku, dan tentang kita
Aku menutup mata
Mencoba memvisualkan ceritamu dengan ilusiku
Aku menahan nafas, berdecak kagum
Tanpa perintah, bulir air tiba-tiba menetes
Bersama harapan yang kini sudah melambung tinggi sekali
Lalu, dalam waktu yang tak pernah kuduga
Kau pecahkan balon harapanku
Yang tak sempat kuberi tali atau kuikat di tanganku
Kau pecahkan dengan jarum kebohongan
Kau tau?
Bukan saja harapan yang pecah, aku pun terjatuh
Kau membuatku berdebum keras di atas tanah kepalsuan
Sedang cairan kecewa yang pekatnya melebihi darah
mengalir perlahan dari buaian ilusiku sendiri
Kau luka aku.
CIH!

DI ATAS AKAR

Beberapa daun berguguran
Membelai wajah, sedang kita terduduk
Sambil menyeruput coklat yang masih panas
Tepat di atas akar-akar tua
Sendu itu.
Kau bercerita dengan tatapan beda
Tanpa kernyitan dahi,
Tanpa lekukan lesung pipit,
Dan tanpa tatapan mata yang riang
Kau bercerita yang membuatku tak habis pikir
Dengan mudahnya, kau bilang ingin mati kala hujan
Dan membiarkan ragamu hanyut begitu saja
Bersama hujan
Kutampar kau sampai tapak tanganku memerah
Melekat erat di pipi kirimu
Bodoh! Harusnya kau memintaku untuk mengkremasimu
Lalu, kuseduh abumu bersama coklat yang masih panas
Bersama sendu yang akan kukantongi ini
Dan tentu saja bersama daun yang berguguran

KUCARI KAU


Malam masih saja sendu
Hujan masih saja turun dengan riang
Kecipak air yang sengaja kuinjak-injak
Di depan beranda rumahku
Harusnya kutemui rindumu
Harusnya terselip bayangmu
Akhirnya,
Kuputuskan tuk bertanya pada lampu
Yang tergantung anggun
Mungkinkah lampu itu melihatnya?
Melihat rindu dan bayangmu yang bersembuyi
Atau mungkinkah aku yang menyembunyikannya?
Kurogoh saku celana biruku
Sebuah kertas kutemukan di dalamnya
Pattimura dalam kertas yang kupegang
Ternyata masih berkumis
Lantas, kemana rindu dan bayangmu?
Kemudian aku masuk ke dalam rumah
Kutemukan semangkuk mie terhidangkan di atas kaca yang dingin
Masih hangat, kucicip saja
Ah, ternyata hambar
Mungkinkah sekarang kau berteman dengan mie di atas meja kaca yang dingin itu?

Monday, November 11, 2013

Sebuah Awal Cerita

 

Dear Mr. Rasional…

Apa kabarmu hari ini?
Tak apa kan bila kupanggil kau dengan Mr. Rasional? Atau harus kuganti dengan Lelaki Penyabar Ciangsana?

Lelaki chubby itu kutemui kali pertama di sebuah acara kopdar. Ya, kopi darat, pertemuan antar manusia maya di dunia nyata. Kopdar salah satu komunitas blog, tentu saja hanya regional Jogja. Bila kau bertanya padaku bagaimana perasaanku padanya pada saat itu? Biasa saja. Tak ada yang menarik. Lelaki yang bawel, garing, ceria, dan hitam manis. Hari itu kau cenderung cuek seolah kutak ada, kecuali pada saat makan. Itupun karena kita sama-sama tidak mengetahui topik yang seringkali dilempar teman-teman. Satu hal baru yang kutau setelah makan tentang kamu, gombal.
“Neng, helm kita samaan nih mereknya. Jodoh kali ya.”
Aku hanya diam. Menyunggingkan senyum setengah kepaksa. Pada dasarnya, aku memang tak suka cowok gombal. Terlalu banyak tipu muslihatnya. “Modus banget”, kalau kata anak gaul zaman sekarang.

Entah malam keberapa setelah kopdar, akhirnya aku mendengarkan kamu on air. Padahal aku jarang sekali mendengarkan radio streaming, internet gak bersahabat. Oya, ngomong-ngomong soal on-air. Seenarnya, kau telah mencuri perhatianku sejak “makanan zaman kecil” menjadi topikmu di acara SIDOEL. Tapi aku tak pernah mengetahui kalau itu kamu. Sampai akhirnya aku kepo, tentu tidak kepo yang mendalam, kamu jangan ge-er.

Beberapa minggu kemudian, entah kerasukan roh apa, kamu mulai mention-mention, tag nama aku di komentar grup di pembicaraan random. Sebagai cewek, aku tentu saja dapat membaca gerak-gerik itu. Aku hafal apa yang sedang kamu lakukan. Mencuri perhatianku.

Tak cukup di sosial media. Pada suatu malam minggu, kamu mengajakku keluar. Aku pikir itu hanya main-main. Lalu kamu memintaku untuk sms kamu. Aku mengikuti saja alur berpikirmu, sampai akhirnya kamu meminta maaf karena motormu sedang dipakai oleh teman. Sedikit kecewa. Yah, aku terkena php. Siapa yang mengajak, siapa yang membatalkan. Kamu.

Kali kedua bertemu secara langsung, aku tak merasakan apapun. Masih biasa saja meski aku tau kamu masih saja mencoba mencuri perhatianku. Lalu, kamu meminta maaf atas kejadian php yang hampir kulupakan itu. Pertemuan yang tak begitu bermakna dalam.

Selanjutnya, kita lebih sering mention. beberapa kali kamu mengajakku keluar, tapi beberapa kali pula aku menolaknya. Bukan karena aku tak mau, tapi terkadang waktu memang tak bersahabat. Sampai akhirnya, suatu malam aku sangat kelaparan. Kamu yang masih dalam rangka mencuri perhatian, secara sedikit memaksa untuk mengantar makanan ke kos, tengah malam, pukul setengah satu. Wajahmu yang ceria malam itu, masih kurekam. Terima kasih untuk kepedulianmu, Mr. Rasional.


Bersambung...

Friday, March 15, 2013

Cinta (monyet) abadi

“Heh kamu yang kuncir kuda, sini maju!” Bentak seorang cewek kaca mata dengan juteknya. 

“Saya Kak? Kenapa?” Risty tampak ragu-ragu maju ke depan kelas. 

“Saya tau dari istirahat tadi, kamu ada di dalam kelas. Kamu tidak meminta tanda tangan seperti teman-temanmu yang lain. Jadi, gak usah ngelak lagi deh. Pasti kamu yang mencuri jam tangan saya. Ngaku!” Bentak cewek itu sambil menggebrak papan tulis. 

“Enggak kak. Saya tadi emang di dalam kelas, tapi sa... saya...” 

“Halah, diem kamu! Jangan banyak alasan! Kamu juga, cowok yang di pojokan kanan sana. Maju sini?” 

Seorang cowok, tingginya sekitar 160cm, berkulit coklat, bermata agak sipit maju tanpa banyak cincong seperti yang dilakukan Risty tadi. Mukanya terlihat sangat ramah. Tidak heran, bila beberapa teman barunya memberi julukan si Senyum. Meski sedang dalam posisi mingkem, entah kenapa bibirnya memperlihatkannya wajah tersenyum. 

“Gak suah mesem-mesem begitu! Kamu tau kenapa kamu saya panggil?” 
Rio menggeleng. “Apa salah saya kak?” 

Kamu saya panggil karena kamu bersekongkol dengan dia. Cewek kaca mata menunjuk hidung Risty yang pesek. Rio langsung mengelak. Mereka memang berada di dalam kelas saat istirahat, tapi mereka hanya membaca buku. Itu saja. Bedanya, Risty membaca teenlit sedangkan Rio membaca komik. Dan ternyata mereka berada dalam sebuah skenario MOPD. 

* * * 

Risty hanya senyum-senyum sendiri dalam pelukan lelakinya. Seorang komikus handal yang selalu ada untuk menggambar kisah kehidupan mereka. 

“Ris, kamu kenapa sih senyum-senyum gitu?” Rio membelai lembut wajah Risty. 

“Nggak apa-apa. Suka lucu aja kalau inget zaman MOPD SMP. Inget pas pertama kali kita ketemu. Inget pas kita dihukum karena sebuah skenario basi dari kakak tingkat kita.” Risty masih tersenyum lebar sambil membayangkannya. 

Sebuah kisah cinta memang selalu menghadapi lika-liku. Begitu pun dengan kisah cinta novelis dan komikus itu. Setelah kejadian MOPD, mereka bahkan masih saja tidak saling menyapa. Sampai pada suatu hari, Risty dan teman-temannya melakukan truth or dare. Sebuah kenyataan itulah yang mengundang gosip beberapa minggu kemudian. Risty menyukai Rio. Padahal, saat itu Risty hanya menjawab pertanyaan teman-temannya tentang orang yang ia suka di kelas. Itu saja. 

Namun, beda halnya dengan perasaan Rio yang dengan gampangnya menanggapi gosip itu. Sejak saat itu, Rio mulai memperhatikan Risty. Meski secara sembunyi-sembunyi. Cinta dalam hati itu tumbuh selama lima tahun. Sampai saat menginjak bangku SMA, Rio lagi-lagi satu sekolah dengan Risty. Rio memiliki banyak fans karena ia menjabat sebagai ketua OSIS. Sedangkan Risty, baru saja putus dengan pacar keduanya. 

Dengan penuh keberanian, Rio mencoba mendekati Risty. Ternyata perasaan cinta dalam hatinya sudah tidak dapat terbendung lagi. Ia tak ingin kalah dengan egonya lagi. 

Sebuah eskalator dan es krim menjadi sebuah saksi kisah cinta mereka. Ah, apalah pentingnya tempat bila dua cinta telah menyatu? Cinta tentu saja butuh pengorbanan, Risty harus memberi pengertian lebih karena harus diduakan dengan OSIS. Sedangkan Rio harus mempertebal dinding cinta mereka supaya tidak mudah dihadang oleh banyak lelaki yang sering menggoda Risty. Tapi, sungguh kekuatan cinta mereka begitu besar. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Cinta mereka abadi dalam sebuah ikatan pernikahan. Selamanya.

I'm all yours :)

Wednesday, December 19, 2012

RSJ: dari nginep sampai hilang barang-barang

KOMUNITAS AKAR!!!
(Akar menghujam menuju 12, SEMANGAT!)
Begitu bunyi jargon yang selalu dielu-elu kan kami, komunitas akar. Komunitas akar adalah sebuah komunitas yang dibentuk sejak kami menginjak semester 3 (2011) oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2010 kelas K. Kami menamai komunitas akar, karena akar adalah bagian dari pohon yang paling penting. Ia yang menopang semua yang ada di pohon. Harapannya, kami dapat membentuk pondasi yang mengakar erat demi mencapai tujuan bersama. Kompak. Kurang lebih seperti itu. Hehe

Pada semester tiga kami telah mementaskan sebuah dramatisasi dan musikalisasi puisi berjudul "Jejak di Atas Aspal". Sebuah pementasan perdana yang membuat gue deg-deg-serr! haha gue tidak ikut main, gue hanya orang belakang yang memainkan laptop (baca: operator).

ini hasil design gue
Nah, di semester lima akhirnya kami dapat mementaskan pementasan kedua, yakni RSJ (Rumah Sakit Jiwa). RSJ adalah sebuah drama karya N. Riantiarno. Drama ini mengisahkan seorang dokter baru yang ingin merubah sistem penyembuhan di RSJ. Namun, karena dokter lama tidak menerima kehadirannya, akhirnya ia difitnah memperkosa seorang pasien dan dipecat dan bunuh diri. Tragis bukan? drama banget ya? hihi
ini juga hasil design gue

Gue sebagai apa? Operator lah, apalagi. Iya, gue sebagai Koord. PDD (Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi). Tapi, gue bangga meski gak maen. Entah kenapa.

Friday, November 2, 2012

Mereka Menunggu Ketidakpastian


Kesan pertama ketika selesai membaca cerpen ini adalah, menarik. Bagi orang awam, cerpen ini merupakan cerpen anak-anak. Namun, setelah dibaca berulang-ulang, cerpen ini bukan cerpen anak. Pengarang hanya meminjam pandangan anak-anak dan ditaruh pada sudut pandang orang pertama, yakni aku. Contohnya saja saat pengarang ingin memberitahukan pada pembaca bahwa Jack seorang pesulap, pengarang tidak langsung menyebutkan Jack pengarang, tetapi melalui deskripsi yang seolah diutarakan oleh anak-anak. Apabila dilihat dari pemilihan judul, pengarang cukup memikat pembaca. Diksi yang dipilih adalah ‘sosok’ yang notabene belum tentu makhluk apa itu, meski kebanyakan yang dimaksud adalah manusia. 

Membaca cerpen ini seperti sedang bermain games teka-teki. Pembaca harus jeli dan peka terhadap setiap diksi yang digunakan pengarang, pemilihan kata yang dapat menjadi petunjuk-petunjuk. Petunjuk tersebut bisa jadi sebuah setting atau plot dan unsur intrinsik lainnya. Beberapa petunjuk yang terdapat dalam cerpen tersebut adalah sebagai berikut: 

- Sepesang sosok bergerak ketika tak ada orang. (Sosok bukanlah manusia) 
- Tempat lembap dan penuh asap, botol minuman berjejer. (Sebuah bar di tempat kumuh) 
- “Aku tak siap dengan apa pun yang melibatkan cinta.” (Jack dan Leona memiliki hubungan khusus) 
- Jack menggunakan bahasa yang tak dikenali. (Bahasa yang tak biasa digunakan di daerah tersebut) 
- Mery kejang. (Mery memiliki penyakit) 
- Sepasang sosok ingin ke Amerika seperti Leona. (Setting tempat bukan di Amerika) 
- Mery kanak-kanak, tak pernah mengajak bicara, keheningan. (Mery bisu) 
- Suatu malam, Mery pergi. Kita melihat sosok berbaju putih dan bersayap menggandeng tangannya. (Mery meninggal, dibawa malaikat, semacam kepercayaan umat kristiani) 
- Berdiri di depan cermin, menatap diriku sendiri. (Tokoh aku cukup tahu diri) 
- Panggilan madam. (Sebutan untuk wanita di Eropa, khususnya Inggris) 

Dari sekian banyak petunjuk yang disebutkan, dapat diketahui unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam cerpen. Misalnya saja tokoh, setting, penokohan, dan lain-lain. Setting tempat lebih mendominasi isi cerpen dibandingkan setting waktu. Setelah melihat petunjuk, dapat disimpulkan bahwa settingnya di Eropa, Inggris. Hal tersebut didukung oleh adanya salju, musim dingin, bahasa yang asing, dan panggilan madam. Sedangkan setting waktunya didominasi saat malam hari. 

Apabila ditinjau dari segi alur, pengarang menggunakan alur campuran. Maju-mundur-maju. Saat alur mundur, pengarang begitu rapi membungkus ceritanya. Tahap demi tahap dilalui secara perlahan tapi pasti, sehingga pembaca tidak begitu kesulitan dalam memahami alurnya. 

Tokoh utama dalam cerpen adalah sepasang sosok yang ternyata dua buah boneka, yakni Barbie dan babi. Pengarang sengaja mensejajarkan mereka, entah karena kasta atau nama kedua sosoknya. Babi merupakan hewan ternak yang banyak terdapat di kawasan Eurasia (Eropa Asia). Babi juga salah satu mamalia omnivora yang lebih cerdas dibandingkan kucing dan anjing. Hal itu diaminkan dengan kalimat “Berhentilah menghindar. Hadapilah. Inilah hidup.” Pada kalimat tersebut tersirat sebuah sikap yang bijak, orang bijak biasanya cerdas, karena mereka mampu mengendalikan emosinya. 

Barbie adalah boneka berwujud perempuan cantik dan selalu menggunakan aksesoris untuk melegkapi penampilannya. Barbie dibuat disecantik mungkin sebagai representasi sosok perempuan yang sempurna. Dalam cerpen tersebut, Barbie lebih banyak mengeluh, bahkan hanya karena hal sepele seperti sepatu yang dianggap tabu oleh tokoh aku. Orang yang sering mengeluh adalah mereka yang kurang bisa menerima hidupnya, atau bisa dikatakan kurang bersyukur. 

Ketika menilik kata ‘menunggu’ pada judul, pembaca langsung memberikan tanda tanya. Siapakah yang mereka tunggu? Awalnya, dua sosok tersebut menunggu Mary yang dibawa malaikat bersayap. Lalu, ketika Jack telah membuat toko boneka, kedua sosok tersebut tetap menunggu. Barbie yang menunggu teman yang sepadan dan babi yang seumur hidupnya menunggu, entah siapa. 

Dalam hidup ini, biasanya seseorang akan merasa kehilangan ketika sesuatu yang biasanya ada menjadi tidak ada. Maka, ketika seseorang menunggu, ia menunggu sesuatu yang sama dengan sesuatu yang hilang tersebut. Begitulah, kedua sosok yang menunggu itu. Bahkan mereka pun menunggu ketika Jack meninggal. Mereka menunggu di etalase sambil menatap ke luar jendela. Meski kedua sosok itu seperti sedang menanti seseorang, namun disadari atau tidak kedua sosok itu hanya menuggu ketidakpastian.

Tuesday, October 16, 2012

Rumah: Antara sadar dan tidak, antara ada dan tiada, antara nyata dan ilusi.

Cerpen Rumah karya Ahimsa Marga mengulas tentang dunia nyata dan ilusi yang diceritakan melalui tokoh May. May adalah seorang gadis yang senang tidur dan bermimpi hal-hal yang aneh. Pada awal cerpen, May menceritakan secara flashback bahwa ia bermimpi bertemu dengan bidadari dengan backsound gending asmarandana. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa gending asmarandana diidentikan dengan kebudayaan Jawa. Dengan demikian dapat diketahui bahwa latar sosial cerpen ini adalah Jawa.

Dalam cerpen ini, May digambarkan sebagai gadis kecil yang memiliki jiwa sosial yang minim. Ia memiliki tetangga dan teman sebaya, tapi ia tak pernah mau keluar rumah. Hal tersebut digambarkan pada kalimat “Sepanjang bisa mengingat, rumahku selalu terbuka, tetapi tak ada anak yang bermain disitu. Mungkin karena aku juga tak pernah bermain ke rumah mereka. Ibuku tak pernah melarang, tetapi aku enggan. Pintu tak pernah dikunci tetapi kakiku tetahan di batas pagar.”

Pada suatu hari ia keluar rumah karena mendengar sebuah suara yang memanggil namanya. Sebuah suara yang membawanya berada di halaman rumah tetangga. Tentu saja tanpa ia sadari. Ketika pembaca yang kurang peka terhadap alur membaca cerpen ini, tentu akan merasa kesuliatan mengikuti perjalanannya. Antara dunia nyata dan ilusi begitu tipis. Apabila diasumsikan bahwa kejadian tersebut dalam mimpi May, hal itu mengartikan bahwa May pun sedang bermimpi bahwa ia tak pernah benar-benar pergi ke tetangganya. Seolah panggilannya sebelumnya tersebut hanyalah bisikan dari hati kecilnya yang ingin tapi enggan.
APA YANG SEBENARNYA MAY LAKUKAN?

Sunday, August 26, 2012

Akhir yang Berakhir


Izinkan aku tetap ada
Izinkan aku tetap ada di sampingmu
Izinkan aku tetap ada di sampingmu hari ini
Izinkan aku tetap ada di sampingmu hari ini dan seterusnya

Kata Albert Einstein, satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian, dan ketidakpastian terbesar adalah waktu. Tapi, kini sesuatu yang penuh ketidakpastian adalah KITA.

Entah. Kini aku mulai akrab dengan kata itu. Entah adalah jawaban dari hampir semua pertanyaanku. Ketika kulempar tanya tentang keberadaanmu, apa yang kau lakukan, bahkan perasaanmu. Akan tetap samakah seperti yang aku kenal? Jawabannya tetap sama: ENTAH.

Ini sudah satu bulan lebih. Bila kau hanya ingin mempermainkanku. Oke, kau menang. Tapi, satu pintaku. Cukup dan segeralah sudahi. Kau takkan pernah benar-benar mengerti apa yang aku rasakan bila kau tak di posisiku. Korban kegantungan hubungan. Aku bahkan bukan baju basah yang pantas kau gantung demi disinari mentari atau terkena sapaan angin. Aku adalah manusia dengan hati tanpa sinar senyum atau sapaan sayangmu. Kau tau? Hatiku terkoyak karna kerinduan bercandu setiap hari dalam sukma. Tentu saja tanpa kamu.

Apa arti hubungan ini? Apakah hanya sekedar status? Ah, tidak sedangkal itu sayang. Hubungan ini yang aku harapkan tak sejalan dengan kenyataan. Aku butuh komunikasi hati, bukan sekedar anggukan belaka. Komunikasi yang tak mengenal dusta adalah komunikasi antara dua hati. Atau, apakah harus kutukar hatiku dengan hatimu agar kita saling mengerti? Ah, andai saja.
"Bila memang diriku tiada lagi di hatimu, di kasihmu janganlah kau paksa. Tapi aku tak mau ini semua berakhir tanpa kata-kata." (Tangga, Akhir yang Indah)
* * *
Faiz menatap layar laptop dan membaca ulang isi email tersebut. Rasa sesal menggantung dalam hatinya. Tetap saja, ia masih dalam euphoria kebingungan sehingga masih diam. Ingin ia segera menekan tombol reply. Tapi, kekosongan sedang berkunjung ke hatinya.

Bererapa menit kemudian, Faiz menekan tombol hijau pada kontak bernama -My Sweet Heart- di handphonenya. Nada dering berbunyi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
"Haloo...." Suara faimiliar itu menyentuh telinga Faiz. 
Suara petikan gitar mengalun dari jari jemari Faiz. Lagu SAYANG dari Ungu mulai mengalun. Terdengar isakan dari sebrang telpon. Faiz tetap bernyanyi.

Entah harus darimana ku memulai kata-kataku
Resah gelisah tak menentu, dari jauh lubuk hatiku

Bukan, bukan keinginanku tuk mencoba meninggalkanmu

Namun tak bisa ku jelaskan, aku takut menyakitimu
Berat rasanya, berat rasanya untuk
Ungkapkan kata meski bualan hati

Sayang maafkan aku ingin putus
Sayang maafkan kita harus putus

Berat rasanya, berat rasanya untuk
Ungkapkan kata meski bualan hati

Sayang maafkan aku ingin putus
Sayang maafkan aku ingin putus

Sayang maafkan kita harus putus
Sayang maafkan aku ingin putus
Sayang maafkan kita harus putus


Saturday, August 25, 2012

rasa itu bernama Rindu

Tuhan, rasa itu serasa familiar
candu yang kau tabur terlalu liar
malamku yang tak menentu
menembus batas rasa rindu

Rindu.
Aku merinduinya.
Rindu yang tak dikenalnya.
Karena hatimu tidak memfollow hatiku.

Ketika rindu itu memeluk malamku,
apakah itu sebuah pilihan?
Kurasa itu takdir.
Percayalah.




Wednesday, July 25, 2012

Hilangnya Seorang Gadis

sumber gambar
Menunggu adalah pekerjaan yang melelahkan. Terlebih menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ya, Dilla kini tengah menanti sebuah ketidakpastian. Sejak tiga jam lalu Dilla selalu melirik layar ponselnya, berharap nama itu akan muncul. Nama seorang cowok yang sangat familiar. 

“Tutitutitutituuut….” Nada sms masuk terdengar dari ponsel hitam mengkilat Dilla. Ia melirik nama yang terpampang disana. “Yaah, Tiffa. Tumben dia sms gue.” Dilla membaca pesan itu dengan ogah-ogahan. Isinya cuma nyuruh Dilla buat pergi ke kosannya. Setelah bunyi sms balesan Tiffa tiba, Dilla langsung menjambret jaket dari belakang pintu dan segera meluncur ke kos Tiffa. 

“Dimana dia?” Dilla masih terengah.
“Fany di kamar Dill, tapi kamarnya berantakan banget.” Nada khawatir terlihat jelas dalam suara Tiffa.

Sunday, July 8, 2012

Analisis (sederhana) Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin


Judul Novel: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin 
Pengarang: Tere Liye 
Penerbit: Gramedia 
Tahun terbit: 2011 
Cetakan: ketiga 
Jumlah halaman: 264


A. Sinopsis
Tania kecil hidup bersama adik dan ibunya dalam rumah kardus di kawasan kumuh. Ayahnya meninggal, Tania putus sekolah dan akhirnya bekerja sebagai pengamen bersama adiknya di jalanan. Selama tiga tahun keluarga mereka hidup dalam kesusahan hingga pada akhirnya malaikat itu datang merubah nasib keluarga itu. Malaikat yang dikirim Tuhan melalui seorang lelaki berusia dua puluh lima tahunan yang Tania dan adiknya, Dede panggil Om Danar. Sejak kedatangan malaikat itu Tania dan Dede kembali bersekolah, bahkan Tania mampu mendapatkan beasiswa untuk meneruskan SMP dan SMA di Singapura dan itu berkat bantuan malaikat terebut.

Saturday, July 7, 2012

Sajak Buka Pintu (2)

Ini sebuah kisah
Seseorang mengetuk pintu
Nada ketukan yang merdu
Bagai nyanyian burung di musim semi
Salam terlantunkan
Pintu terbuka
Sebuah senyum indah melengkung
tepat mengenai hati
Seseorang masuk dengan aura kebahagiaan
Sebuah cinta terangkai di antara mereka
Melalui pandangan yang menyejukkan
Antara seseorang yang mengetuk pintu
dengan seseorang yang membukakan pintu
Pintu selalu terbuka ...
kepada orang yang berhati lapang
kepada waktu yang terizinkan
kepada tempat yang sesuai




13 Juni 2012


Monday, June 18, 2012

Sajak Buka Pintu (1)

Ini sebuah cerita
Seseorang mengetuk pintu
tidak perlahan juga tidak keras
Biasa saja
Ia hanya mengetuk tanpa memberi salam
Seorang yang lain membuka pintu
Ia bertanya hendak apa
Tidak terjawab
Hanya diam dan bungkam
Lalu pintu tertutup
Seorang yang mengetuk pintu terpaku
Berbalik badan
Daun kamboja berguguran dalam batinnya

13 Juni 2013


Thursday, June 14, 2012

Sang Senyuman

Lengkung senyuman
Membingkai raut wajah bahagia
Duduk di bawah buaian mentari
Bersama secangkir teh manis
Ah, senyumanmu masih termanis
Masihkah senyuman itu tak bertuan?
Kanan, selalu kau tolehkan arahmu kesana
Apakah kiri bermakna buruk?
Izinkan aku menyelami senyum itu
Aku ingin mencumbu makna senyum itu
Iya, kini aku menemukan diriku dalam harap
Harapan bahwa akulah yang kau toleh
Sehingga aku bisa mencumbu dengan utuh
Akankah senyum itu hanya untukku?


13 Juni 2012

Sunday, April 29, 2012

Sajak-sajak Sepatu Tua

sumber gambar
Seorang maestro seni Indonesia, WS Rendra mengumpulkan 38 puisinya menjadi sebuah buku dengan judul Sajak-sajak Sepatu Tua yang bukunya diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada sekitar tahun70-an. Secara umum kumpulan puisi ini dengan jelas memberikan gambaran gamblang tentang dunia Rendra yang di Indonesia merupakan suatu dunia unik yang selalu menarik perhatian. Kumpulan puisi ini terbagi atas dua bagian dan satu kumpulan puisi berjudul Masmur Mawar, bagian pertama memuat sepuluh puisi, bagian kedua memuat tigabelas puisi, sedangkan kumpulan puisi Masmur Mawar memuat limabelas puisi. Masing-masing bagian memiliki benang merah yang berbeda. 

Sunday, April 8, 2012

Lantai Kehidupanku


Langkahku semakin cepat ketika ku lirik jarum jam tangan silverku telah memeluk angka satu dan dua belas. Suara sepatuku mengiri irama gerakan kaki yang tak henti melangkah di atas lantai marmer bening kecoklatan. Setelah berbelok di koridor sebelah utara lobi, perlahan aku membuka pintu ruang meeting lantai satu. Disana telah duduk sepuluh orang hebat dengan pakaian mewah yang melekat erat. Pria dengan dasi dan jas bermerk, serta wanita dengan bajunya yang berwibawa dan terlihat kontras berbeda dengan kasta sudra sang OB yang sedang menyuguhkan minum kala itu.
Aku berdeham sejenak, “maaf saya terlambat lima menit.”
Pria setengah baya mempersilahkan duduk di atas kursi empuk itu dan aku segera bergabung dengan mereka tanpa rasa canggung karena sudah lima tahun lebih aku bergelut dan membaur dengan dunia mereka.